INAnews.co.id, Jakarta– Ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik militer Iran-Amerika Serikat memberikan tekanan langsung pada pasokan energi Indonesia. Sekitar 13 persen minyak mentah dan 20 persen BBM impor Indonesia melewati jalur tersebut, sebagian besar bersumber dari Arab Saudi.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menjelaskan bahwa meski 80 persen pasokan tidak melewati Selat Hormuz, gangguan di jalur itu tetap berbahaya karena menyangkut waktu tempuh dan ketersediaan pasokan alternatif.
Dari Arab Saudi melalui Selat Hormuz, kapal tanker membutuhkan waktu 8 hingga 12 hari untuk tiba di Indonesia. Namun jika harus beralih ke sumber alternatif dari Texas, Amerika Serikat, waktu tempuhnya membengkak menjadi 45 hari—hampir dua kali lipat dari batas stok aman 25 hari.
“Sementara ketahanan stok domestik kita hanya 25 hari. Kalau barang dari Texas belum datang, di sini sudah habis,” kata Komaidi dalam wawancara Prime Time INAnews TV, Rabu (22/4/2026).
Situasi makin genting karena persaingan global memperebutkan pasokan yang terbatas. Komaidi mengungkapkan adanya informasi bahwa tanker yang sudah bersepakat mengangkut minyak untuk Indonesia bisa beralih ke negara lain yang menawar harga lebih tinggi di tengah perjalanan.
“India kabarnya berani membayar sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan yang mampu dibayar Indonesia. Artinya, kita punya uang pun belum tentu bisa dapat barang,” ungkapnya.
Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa 98 persen aliran minyak dari Selat Hormuz memang menuju kawasan Pasifik—termasuk Tiongkok, India, Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Persaingan antarnegara pun menjadi sangat ketat.






