Menu

Mode Gelap
Catut Nama Presiden Prabowo, CWIG Desak Kasus PT BAT Bank Naik ke Penyidikan Polisi Indonesia Siap Operasionalkan Nilai Ekonomi Karbon Wamen LHK Ungkap Kesenjangan Pendanaan Iklim Keberhasilan Pasar Karbon tak Hanya Tergantung Regulasi, tapi Kolaborasi Pemangku Kepentingan Indonesia Amankan Pasokan Minyak Mentah dari Rusia hingga Akhir Tahun Polri Umumkan Rekrutmen Akpol 2026 Bebas Titipan, Mahfud: Buah Reformasi

PERISTIWA

Saksi Mata Korban Mei 1998: Perkosaan Itu Nyata, Bukan Omong Kosong

badge-check


					Foto: Ita Fatia Nadia Perbesar

Foto: Ita Fatia Nadia

INAnews.co.id, Jakarta– Aktivis hak asasi manusia Ita Fatia Nadia, yang pada 1998 menjabat Direktur Kalyanamitra sekaligus anggota Tim Relawan untuk Kemanusiaan, menyatakan secara langsung menangani 15 korban perkosaan massal Mei 1998 di Jakarta. Ia menegaskan penyangkalan yang dilakukan Fadli Zon sebagai penghinaan terhadap kebenaran yang ia saksikan dengan mata kepala sendiri.

“Perkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa bukan omong kosong, bukan penipuan. Itu adalah peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi,” kata Ita dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Ita menceritakan korban termuda yang ia tangani bernama Fransiska, berusia 11 tahun, warga Tangerang, yang diperkosa dengan cara yang sangat brutal. Ia mendampingi Fransiska sejak satu jam setelah kejadian hingga kremasi dan penaburan abu di laut. Ia juga menjadi salah satu orang pertama yang hadir di kamar Ita Martadinata, aktivis muda yang dibunuh, 45 menit setelah kematiannya.

Selama persidangan di PTUN, Ita menghadirkan Wiwin Suryadinata, ibu dari Ita Martadinata, sebagai saksi mahkota. Wiwin kini dikabarkan dalam kondisi psikologis yang sangat buruk akibat rentetan peristiwa tersebut dan dampak penyangkalan yang terus berulang.

Ita juga menyebut adanya surat dukungan (amicus curiae) dari Pelapor Khusus PBB Radhika Coomaraswamy yang dikirimkan kepada Kontras sebagai penguat posisi para penggugat dalam perkara ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ibu Korban 98 Bersaksi: Negara Harus Jawab Kekejaman Mei 1998

8 April 2026 - 18:42 WIB

Dahsyatnya Serangan Air Keras, Pengalaman Novel Baswedan

18 Maret 2026 - 12:17 WIB

Penyerangan Andrie Yunus Bukan Serangan Spontan, Minimal 10 Orang Terlibat

17 Maret 2026 - 22:53 WIB

Populer PERISTIWA