INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom senior Ferry Latuhihin mendesak pemerintah menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) segera sebagai satu-satunya langkah jangka pendek yang realistis untuk memperkuat bantalan fiskal dan mencegah skenario terburuk pencabutan subsidi BBM.
Desakan itu disampaikan Ferry dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad, Kamis (14/5/2026). Ia menilai MBG bukan investasi, melainkan konsumsi yang tidak menghasilkan efek pengganda ekonomi yang berarti.
“Kalau MBG dihentikan, siapa yang mati? Tidak ada yang mati. Tapi kalau subsidi dicabut karena tidak ada anggaran, selesai,” tegasnya.
Ferry menunjukkan bahwa Saldo Anggaran Lebih (SAL) saat ini hanya tersisa Rp10 triliun, cukup untuk dua bulan operasional pemerintah. Sementara pengeluaran pemerintah kuartal pertama sudah melonjak 31 persen dibanding tahun lalu, sebagian besar untuk mendanai MBG dan proyek-proyek infrastruktur mercusuar yang ia sebut sebagai “bancakan.”
Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen yang diumumkan pemerintah pun ia ragukan. Berdasarkan koreksi yang dilakukan LP3E UI, angka riilnya berkisar 4,7-4,9 persen dan setelah dinormalisasi dari efek doping belanja pemerintah, Ferry menghitung angka sebenarnya berada di bawah 4 persen.
Jika MBG dan Koperasi Merah Putih tidak dihentikan, ia memperingatkan pemerintah berisiko gagal membayar gaji pegawai negeri, terpaksa mencetak uang melalui pembelian SBN oleh Bank Indonesia yang akan memicu inflasi lebih lanjut atau pada akhirnya mencabut subsidi BBM dan memperparah penderitaan masyarakat.






