INAnews.co.id, Jakarta– Cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia yang hanya cukup untuk 20 hari, dikombinasikan dengan harga minyak dunia yang melonjak di atas 100 dolar AS per barel, menempatkan Indonesia di tepi jurang krisis energi yang bisa melumpuhkan seluruh aktivitas ekonomi nasional.
Hal itu diungkapkan ekonom senior Ferry Latuhihin dalam wawancara bersama Abraham Samad, Kamis (14/5/2026). Ia mengingatkan bahwa harga minyak di pasar spot telah menyentuh 120 dolar AS per barel, dua kali lipat dari posisi sebelum ketegangan di Timur Tengah yang hanya 60 dolar AS.
“Kalau kita kehabisan stok BBM, semua berhenti napas,” tegasnya.
Jika stok masih bisa dipertahankan namun dengan harga yang sangat tinggi, Ferry memperingatkan ekonomi Indonesia tetap akan kolaps. Ia memperkirakan inflasi yang saat ini masih satu digit akan menembus angka ganda pada Mei ini, karena produsen terpaksa menggunakan stok baru yang dibeli dengan harga minyak di atas 100 dolar AS.
Dampak awal sudah terasa di masyarakat. Minyak goreng konsumsi naik 25 persen menjadi sekitar Rp36.000 per kilogram. Bahan pokok berbasis impor seperti kedelai, gula, jagung, dan beras turut terkerek oleh kombinasi kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.






