INAnews.co.id, Jakarta– Ferry Latuhihin memperingatkan bahwa lembaga indeks global MSCI berpotensi mengubah status Indonesia dari negara berkembang (emerging market) menjadi frontier market pada pengumuman yang dijadwalkan tanggal 19. Meski begitu, ia memperkirakan MSCI kemungkinan besar akan menahan keputusan dan memilih memantau perkembangan selama enam bulan ke depan.
Menurut Ferry, status “menggantung” ini justru lebih berbahaya dibanding penurunan langsung. “Ini justru lebih kejam. Sebab lebih baik diputuskan sekalian, selesai urusannya,” ujarnya, menambahkan bahwa sikap MSCI menunjukkan otoritas pasar modal Indonesia belum mendapat kepercayaan penuh meski sudah beberapa kali dirombak, di Podcast Endgame, kanal YouTube Gita Wirjawan, tayang Rabu (1/7/2026).
Ferry menyoroti sejumlah kejanggalan di pasar modal domestik sebagai alasan kekhawatiran MSCI, mulai dari rasio harga saham terhadap laba (PER) yang mencapai 300 hingga 500 kali hingga tingkat saham beredar bebas (free float) di bawah 5 persen. “Betapa anehnya harga-harga saham… free float-nya di bawah 5 persen, praktik bandar ada di mana-mana,” katanya. Ia membandingkannya dengan gelembung dot-com 1999 di Wall Street, “Tapi waktu itu bukan karena permainan bandar. Itu benar-benar mekanisme pasar.”
Ia menduga penurunan outlook dari lembaga pemeringkat Moody’s dan Fitch dari stabil menjadi negatif turut menjadi salah satu pemicu MSCI mempertimbangkan langkah serupa.






