INAnews.co.id, Jakarta- Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli memperingatkan bahwa ancaman ekonomi yang akan dihadapi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan jauh lebih dalam dari sekadar pelemahan nilai tukar. Ia menyebut potensi krisis fiskal akibat tumpukan utang warisan pemerintahan sebelumnya yang kini jatuh tempo bersamaan.
“Kalau 1998 itu krisis moneter, nilai tukar, hal-hal di luar kendali kita. Yang ke depan, kemungkinan besar adalah krisis fiskal,” ujar Dipo dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up beberapa waktu lalu.
Utang-utang yang diambil secara agresif di era Jokowi, jelasnya, banyak yang jatuh tempo antara 2026 hingga 2029. Setiap kali Indonesia menerbitkan surat utang baru untuk menutupnya, bunganya semakin mahal, karena rupiah melemah dan kepercayaan investor menyusut. Ini yang antara lain mendorong pemerintah mencari pinjaman tambahan dari Tiongkok senilai 1,5 miliar dolar AS.
Dipo menilai pemerintahan Prabowo memang mewarisi situasi sulit, namun ia mengkritik pilihan untuk melanjutkan pola lama alih-alih mengoreksinya. “Harusnya dilihat dulu: ini utang dipakai buat apa? Kalau ada indikasi tidak digunakan dengan benar, bisa direstrukturisasi,” katanya, merujuk pada preseden restrukturisasi utang Garuda Indonesia beberapa tahun lalu.
Tanpa koreksi atas masalah lama, termasuk IKN dan proyek-proyek bermasalah, ia khawatir beban fiskal akan terus menggerus ruang kebijakan, sementara yang paling merasakan dampaknya tetap kelas menengah dan bawah.






