INAnews.co.id, Jakarta– Perubahan tuntutan investor turut menjadi pendorong gelombang PHK di sektor teknologi, termasuk pada kasus pengambilalihan Tokopedia oleh TikTok. Deniey Adi Purwanto dari INDEF menyebut orientasi investor kini bergeser dari sekadar mengejar profit menjadi menuntut efisiensi struktural yang lebih mendasar.
“Kalau di take winter di 2022 itu investor itu hanya tuntutannya adalah profit yang lebih besar, perluasan market base. Tapi saat ini dengan adanya biaya yang lebih besar untuk tenaga kerja, biaya modal yang meningkat, maka efisiensi tuntutannya investor adalah efisiensi yang lebih mendasar,” jelasnya di kanal YouTube INDEF, tayang Ahad (16/8/2026).
Ia menambahkan, preferensi konsumen yang kian tersegmentasi turut mempersempit basis pasar masing-masing platform digital, sehingga makin memaksa perusahaan melakukan efisiensi jangka panjang.
“Karena ada perbedaan-perbedaan dan orang punya preferensi sehingga konsumennya itu semakin segmented. Artinya market base-nya juga semakin terbatas,” kata Deniey.
Ia juga mengungkap bahwa sejumlah posisi manajerial di Tokopedia kini telah dialihkan ke induk usahanya di China menyusul akuisisi oleh TikTok. “Level-level manajemennya juga sudah diambil alih di sana, di sini cuma tinggal hub untuk market saja,” ungkapnya.






