INAnews.co.id, Jakarta – Kementerian Pendidikan Jepang memberikan fakta mengejutkan tentang kecenderungan pelajar tingkat sekolah dasar dan menengah yang melakukan bunuh diri. Dari hasil penelitian tersebut, tercatat ada 250 pelajar sekolah dasar hingga menengah atas bunuh diri selama periode 2016-2017.
Ratusan pelajar itu memilih untuk mengakhiri hidup karena berbagai alasan. Mulai dari menjadi korban perundungan (bullying), masalah keluarga, dan stres.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak tahun 1986 atau 30 tahun lalu, dimana 268 anak-anak mati bunuh diri.
“Angka pelajar bunuh diri tetap tinggi, dan ini menjadi isu yang mengkhawatirkan yang patut diselesaikan,” ucap pejabat Kementerian Pendidikan Jepang Noriaki Kitazaki kepada wartawan di Tokyo, Selasa (6/11).
Kitazaki mengatakan bahwa penyebab peningkatan angka bunuh diri ini belum jelas. Dia mengatakan sebagian besar anak yang merenggut nyawanya sendiri tengah mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Pemerintah, paparnya, pernah mencatat kenaikan angka bunuh diri ini terjadi pada 1 September, di mana tahun ajaran baru dimulai.
Meski angka bunuh diri anak meningkat, total pelaku bunuh diri di Jepang juga mengalami penurunan pada 2017 dengan jumlah 21.321 kasus. Sementara itu, angka kematian akibat bunuh diri tertinggi ada pada 2013 dengan jumlah 34.427 kasus, menurut Kepolisian Jepang.
Namun, tingginya angka bunuh diri tak hanya dialami Jepang, tapi negara serumpunnya di Asia Timur seperti Korea Selatan. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) Korsel bahkan memiliki tingkat bunuh diri yang lebih tinggi dari Jepang.
Pada 2017 lalu, angka kematian akibat bunuh diri di Korsel mencapai 26,9 per 100 ribu orang, sementara Jepang 18,5 dan Filipina 3,2.
Selain Korsel, bunuh diri menjadi faktor utama meningkatnya angka kematian di Hong Kong.
Dan tingginya angka bunuh diri ini disebut disebabkan karena budaya sosial dan budaya bekerja yang ketat di sejumlah negara Asia Timur tersebut.






