Menu

Mode Gelap
Indonesia Memiliki Potensi Energi Panas Bumi 24 Ribu Megawatt Indonesia Catat Cadangan Beras Tertinggi, 5,3 Juta Ton Tersimpan CBA Bongkar Dugaan Mark Up Rp147 Juta untuk Komputer Sultan di Setda Kaltim Nepotisme Bunuh Semangat Anak Muda: “Untuk Apa Sekolah Tinggi?” 80 Tahun Merdeka, Indonesia Masih Kalah dari Vietnam dan Korsel Moral Intelektual Bangsa Melahirkan Pemimpin Bermoral

HOT ISU

Respons IHW soal Dugaan Nampan MBG Menggunakan Minyak Babi

badge-check


					Foto: Ikhsan Abdullah, dok. ist Perbesar

Foto: Ikhsan Abdullah, dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Founder Indonesia Halal Watch (IHW), Ikhsan Abdullah, menanggapi isu nampan impor asal Tiongkok yang digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan, persoalan yang muncul bukan pada bahan utama nampan, melainkan proses produksinya yang melibatkan minyak babi.

“Sebenarnya bukan food grade atau nampannya yang mengandung babi. Tapi proses akhirnya dari pembuatan food grade itu yang menggunakan minyak babi,” kata Ikhsan dalam keterangannya, Rabu (3/9/2025).

Menurutnya, dalam tahap akhir produksi, nampan stainless steel dicelupkan ke minyak berbasis lemak babi agar tidak mudah berkarat dan tidak saling bergesekan. “Minyak babi itu paling efektif dan murah. Itu hasil temuannya,” jelasnya.

Ikhsan menilai, temuan ini harus menjadi peringatan bagi pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat untuk menegakkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). “UU itu mengatur bahwa semua produk yang beredar wajib bersertifikat halal. Tidak terkecuali produk food grade,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mempertanyakan kebijakan impor nampan dari Tiongkok, padahal industri dalam negeri mampu memproduksi produk serupa. “Kenapa tidak menggunakan produk yang sejenis yang diproduksi oleh masyarakat kita? Wong bikin kapal saja bisa kok, masak ompreng saja mesti beli di China,” ujarnya.

Menurutnya, jika diproduksi di dalam negeri, bukan hanya standar halal yang lebih mudah dijaga, tetapi juga memberi dampak ekonomi berantai. “Dengan memproduksi ompreng di sini, tenaga kerja terserap, orang memperoleh nafkah, bisa membeli beras, petaninya juga hidup. Ada multiplier effect. Ini yang tidak dipikirkan. Kita terburu-buru,” pungkas Ikhsan.

Sebelumnya, Indonesia Business Post (IBP) merilis laporan investigasi di kawasan industri Chaoshan, Provinsi Guangdong, Tiongkok, yang disebut sebagai lokasi produksi ompreng untuk pasar global, termasuk diduga untuk Program MBG.

Laporan IBP mengungkap 30–40 pabrik memproduksi ompreng dengan dugaan praktik pemalsuan label “Made in Indonesia” dan logo SNI. Selain itu, ditemukan penggunaan bahan stainless steel tipe 201 yang diduga mengandung mangan tinggi dan tidak cocok untuk makanan asam. Investigasi itu juga menyoroti indikasi penggunaan minyak babi atau lard dalam proses produksi.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Indonesia Catat Cadangan Beras Tertinggi, 5,3 Juta Ton Tersimpan

21 Mei 2026 - 05:24 WIB

CBA Pertanyakan Anggaran Rp500 Juta untuk Pemberantasan Hama di Sekretariat Jenderal Kemenkes

18 Mei 2026 - 16:52 WIB

Prabowo: Gaji Hakim RI Kini Kalahkan Malaysia dan Singapura

18 Mei 2026 - 11:54 WIB

Populer NASIONAL