INAnews.co.id, Jakarta– Pemerhati lingkungan dan intelektual publik, Rocky Gerung, menyoroti krisis ekologis global serta hubungannya dengan etika manusia dalam acara Kajian Subuh Ilmiah Alam dan Kita dalam Perspektif Agama dan Sains. Dalam paparannya, Rocky menekankan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya ancaman bagi stabilitas politik, tetapi juga bagi keberlangsungan bumi sebagai entitas yang suci.
Krisis Nuklir dan Kerusakan Lingkungan
Rocky mengawali dengan contoh ketegangan nuklir antara India dan Pakistan. Menurutnya, perang nuklir tidak hanya berimplikasi pada kehancuran manusia (Mutual Assured Destruction/MAD), tetapi juga pada kemampuan bumi untuk “memaafkan” kerusakan yang dibuat oleh manusia.
“Pertanyaannya bukan lagi tentang stabilitas politik regional, tapi apakah bumi bisa memaafkan kemudaratan yang dibuat manusia?” ujarnya.
Ia mengajak audiens memahami krisis ini dari perspektif sains dan teologi, termasuk tafsir ayat-ayat suci tentang akhir zaman (eskatalogi). Rocky menegaskan, alam semesta memiliki mekanisme pemulihan sendiri, tetapi kerusakan akibat aktivitas manusia (antroposen) telah melampaui batas daya pulih bumi.
Belajar dari Hukum Semesta dan Kearifan Lokal
Rocky mengutip prinsip “Alam Takambang Jadi Guru” dari kebudayaan Melayu, yang menekankan kesetaraan epistemik antara manusia dan alam. Ia juga merujuk pada ayat Al-Qur’an yang mendorong manusia menggunakan akal untuk membaca tanda-tanda alam.
“Ilmu pengetahuan harus diselundupkan melalui ayat-ayat suci karena bumi ini suci,” tegasnya.
Ia memberikan contoh fenomena alam yang menakjubkan: gurun Sahara yang tampak gersang ternyata menjadi “pabrik pupuk” bagi hutan Amazon melalui siklus fosfat yang dibawa angin. “Allah SWT yang mengatur itu, bukan oligarki,” ucapnya.
Perempuan, Etika Kepedulian, dan Kerusakan Lingkungan
Rocky menyamakan hak bumi dengan hak perempuan, mengingat keduanya sering menjadi korban eksploitasi. Menurutnya, “ethics of care” (etika kepedulian) yang dimiliki perempuan lebih dekat dengan teologi dan kepekaan ekologis dibandingkan rasionalitas maskulin yang cenderung eksploitatif.
“Merusak bumi sama dengan memperkosa perempuan, karena bumi adalah ‘ibu’ kita,” tegasnya.
Ia mengkritik sistem politik yang mengubah needs (kebutuhan) menjadi wants (keinginan), memicu kerakusan dan kerusakan lingkungan. “APBD dan APBN adalah ‘rahim laki-laki’ yang diisi arogansi dan perampokan,” sindirnya.
Teologi dan Harapan untuk Bumi
Rocky menutup dengan pesan bahwa teologi memberikan harapan akan keadilan dan kemuliaan manusia. Namun, ia mengingatkan bahwa bumi akan terus mencatat segala tindakan manusia—baik melalui hukum fisika, ekologi, maupun penghakiman ilahi.
“Semua yang kita lakukan dibaca oleh ilmu pengetahuan, tetapi ada yang tak terbaca: teologi. Allah memahami kita melampaui pemahaman kita tentang alam,” pungkasnya.
Acara ini juga menghadirkan Ustaz Abdul Somad, yang dijadikan Rocky sebagai rujukan dalam menjelaskan konsep penciptaan dan keadilan ekologis. Kajian ini diharapkan dapat mendorong kesadaran kolektif untuk lebih menghormati alam sebagai entitas yang suci.






