INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Menteri Agama, Lukman Saifuddin, menyampaikan pandangannya mengenai peran penting Pondok Modern Gontor dan Gerakan Pramuka dalam menghadapi kompleksitas tantangan global. Dalam acara konferensi pers, Rabu, di Jakarta, ia menekankan bahwa World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) yang akan datang merupakan wujud nyata dari upaya tersebut.
Lukman menjelaskan bahwa seiring bertambahnya jumlah populasi manusia di tengah keterbatasan lahan, persaingan hidup menjadi semakin ketat dan berpotensi memicu konflik. Ia mencontohkan ketegangan yang terjadi di berbagai negara, seperti konflik di Myanmar, sebagai bukti nyata dari persoalan ini.
“Kehidupan kita sekarang dan ke depan itu semakin tidak sederhana, semakin kompleks,” ujar Lukman.
“Jumlah manusia terus bertambah, tapi tempat di mana manusia tinggal menyusut. Dua faktor ini saja sudah membuat kompetisi hidup semakin besar, semakin keras, semakin tajam,” imbuhnya.
Menanggapi hal tersebut, Gontor membekali para lulusannya untuk menjadi “problem solver” yang mampu memberikan solusi bagi masyarakat. World Muslim Scout Jamboree menjadi wadah untuk mewujudkan visi tersebut dengan mengusung tiga nilai utama: peradaban, perdamaian, dan persaudaraan.
“Ada tiga kunci yang ingin diusung melalui World Muslim Scout Jamboree ini,” jelas Lukman.
“Bagaimana peradaban itu bisa semakin baik dengan basis perdamaian, dan semua itu dirawat dengan nilai-nilai persaudaraan,” sambungnya.
Acara yang akan berlangsung dari 9 hingga 14 September ini juga merupakan bagian dari peringatan 100 tahun berdirinya Pondok Modern Gontor. Lukman, yang juga merupakan alumni Gontor, menegaskan pentingnya nilai-nilai luhur yang dikembangkan oleh Gerakan Pramuka, seperti yang tercantum dalam Tri Satya dan Dasa Darma, sebagai landasan moral.
“Kami yang alumni Gontor adalah sosok-sosok yang mendapatkan manfaat dari Pramuka,” tambahnya.
Lukman berharap World Muslim Scout Jamboree ini dapat melahirkan “aktor-aktor perdamaian” dari seluruh dunia. Ia optimistis bahwa melalui acara ini, keberagaman dan perbedaan dapat menjadi anugerah untuk memajukan peradaban, bukan sebaliknya.
“Mudah-mudahan selama 4-5 hari di jambore, peserta sedunia ini bisa mengembangkan diri sehingga aktor-aktor perdamaian bisa dilahirkan,” tutupnya.






