Menu

Mode Gelap
Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat Indonesia Negara Paling Bahagia dan Optimis di Dunia Ganti Tujuh Menteri untuk Percepat Pengembalian Kedaulatan

SOSIAL

Relevansi Perjuangan Pangeran Diponegoro dengan Gerakan Kebangsaan Modern

badge-check


					Foto: Anies Baswedan/tangkapan layar Perbesar

Foto: Anies Baswedan/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, mengulas mendalam buku monumentel karya sejarawan Inggris Peter Carey berjudul “Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa (1785-1855)” dalam sebuah pembahasan yang menyoroti relevansi perjuangan pahlawan nasional tersebut dengan gerakan kemerdekaan Indonesia.

Dalam ulasannya, Anies menekankan kualitas akademik buku setebal lebih dari 1.000 halaman yang terbagi dalam tiga jilid ini. “Lebih dari 100 halaman berupa referensi, menggambarkan betapa seriusnya studi literasi yang dikerjakan Peter Carey sebagai sebuah karya akademik yang punya referensi solid,” ungkap Anies lewat channel YouTube-nya, Jumat.

Buku ini merupakan pengembangan dari disertasi Peter Carey yang diselesaikan pada 1975, namun telah mengalami upgrade signifikan dengan tambahan materi dan sistematika penulisan yang berbeda dari naskah asli disertasinya.

Anies memberikan apresiasi khusus terhadap sosok Peter Carey, profesor dari Oxford University yang dikenal sebagai ahli sejarah Indonesia, khususnya tentang Pangeran Diponegoro. “Peter Carey memang orang asing tapi dia sangat Indonesia. Beliau sederhana sekali, sangat rendah hati, bisa ngobrol dengan siapa saja, bahasa Indonesianya sangat lancar dan memahami bahasa Jawa dengan sangat baik,” kenang Anies.

Menariknya, Carey juga terlibat dalam kegiatan sosial melalui Jakarta School of Prosthetic and Orthotics di Cilandak Barat, sebuah sekolah yang mengajarkan pembuatan kaki palsu.

Anies menegaskan pentingnya Perang Jawa (1825-1830) sebagai simbol perlawanan terhadap kolonialisme. “Sebelum perlawanan Pangeran Diponegoro, tidak ada perang yang begitu masif dan terorganisir dalam melawan kolonialisme,” jelasnya.

Dampak perang ini luar biasa besar: 8.000 serdadu Belanda dan 7.000 tentara bayaran tewas, sementara korban dari pihak pejuang dan rakyat Indonesia diperkirakan sekitar 200.000 orang. Kerugian finansial kolonial Belanda mencapai lebih dari 20 juta gulden, setara dengan Rp 1,8 triliun dalam nilai saat ini.

Yang paling menarik dari ulasan Anies adalah bagaimana ia menghubungkan Perang Diponegoro dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Ada rentetan: Perang Diponegoro membuat Belanda kehabisan kas, sehingga menerapkan tanam paksa. Akibat tanam paksa terjadi penderitaan rakyat yang memunculkan reaksi di Belanda sendiri, lahirlah politik etis. Dari politik etis, anak-anak Indonesia dapat kesempatan belajar, bertemu pemikiran modern, hingga muncul gerakan kemerdekaan modern sampai pada kemerdekaan,” papar Anies.

Buku ini juga mengungkap sisi spiritual Pangeran Diponegoro yang sebelumnya jarang dibahas secara akademik. Anies menyoroti perjalanan tirakat sang pangeran, termasuk pengalaman spiritual di Jejeran, Yogyakarta, di mana Diponegoro mengalami penampakan yang dianggap sebagai Sunan Kalijogo yang meramalkan dirinya akan menjadi raja Jawa.

“Ramalan ini menjadi hal penting bagi Diponegoro dan menjadi salah satu pemantik perjuangan melawan kolonial Belanda,” ungkap Anies.

Anies juga menjelaskan pemicu konkret Perang Jawa, yaitu tindakan sewenang-wenang Residen Yogyakarta Henrik Smissaert yang memasang patok-patok jalan di tanah Tegalrejo milik Pangeran Diponegoro tanpa izin, bahkan melintasi makam leluhurnya.

“Kecerobohan dan kebodohan Smissaert adalah penyebab langsung pecahnya Perang Jawa, yang menjadi salah satu perang paling dikenal dalam melawan kolonialisme di Nusantara,” kutip Anies dari halaman 609 buku tersebut.

Menutup ulasannya, Anies merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang mencintai sejarah. “Bagi orang yang mencintai sejarah, buku ini layak jadi bacaan. Ada fakta-fakta dan perspektif-perspektif baru yang unik tentang perjuangan Pangeran Diponegoro dalam mengomandoi serta melawan kolonial Belanda,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan

23 Januari 2026 - 22:25 WIB

Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat

23 Januari 2026 - 21:20 WIB

Ganti Tujuh Menteri untuk Percepat Pengembalian Kedaulatan

23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Populer POLITIK