INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyatakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini sudah selaras dengan indeks-indeks utama seperti LQ45 dan IDX30, mencerminkan pergerakan yang lebih berbasis fundamental.
Hal itu disampaikan Friderica dalam forum bersama Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Gubernur Bank Indonesia, Menteri Keuangan, dan Ketua LPS, Selasa (5/5/2026) malam.
“Saham-saham sekarang pergerakannya sudah lebih ke fundamental,” ujar Friderica.
OJK mengakui adanya outflow dari pasar modal Indonesia. Namun ia menegaskan tekanan tersebut lebih banyak bersumber dari faktor geopolitik dan geoekonomi global, bukan dari kelemahan fundamental domestik. “Selama kita yakini fundamental kita baik, kita harapkan ini akan bisa berbalik,” katanya.
Merespons kekhawatiran investor global yang mencuat sejak akhir Januari 2026 melalui market event yang dicetuskan MSCI, OJK telah mengambil sejumlah langkah penguatan transparansi pasar modal. Di antaranya: membuka data pemegang saham di atas 1 persen, memperluas granularitas klasifikasi data dari 9 menjadi 39 kategori, mengungkapkan ultimate beneficial owner, serta menetapkan kebijakan free float di atas 15 persen secara bertahap.
Terkait pengumuman MSCI pada Mei dan Juni mendatang, Friderica mengakui ada kemungkinan rebalancing indeks yang berdampak sementara pada pasar. “Ini adalah dampak temporary dari perbaikan yang kita lakukan, seperti short-term pain. Tapi harapannya ke depan akan semakin baik secara fundamental,” jelasnya.
Untuk memperkuat ketahanan pasar dari guncangan eksternal, OJK terus mendorong pendalaman pasar melalui peningkatan jumlah investor domestik. Dalam satu tahun terakhir, jumlah investor di pasar modal Indonesia tercatat bertambah sekitar dua juta Single Investor Identification (SID).
“Kita tingkatkan investor domestik supaya kalau terjadi guncangan di luar, market kita tetap lebih stabil,” pungkas Friderica.






