Quo Vadis Partai Golkar

INAnews.co.id , Jakarta – Jika dikaji dengan seksama akar masalah dari ketegangan yang ada sekarang ini ditubuh partai Golkar karena DPP Partai Golkar tidak juga mau menyelenggarakan Rapat Pleno . Walau ini amanat AD/ ART.

Hal ini sudah diajukan oleh para pengurus agar diselenggarakan Rapat Pleno dan usulan itu sudah disampaikan baik lisan maupun tertulis. Rapat Pleno adalah hal yang pentimg untuk Partai Politik, karena ini merupakan Forum Demokratis untuk mendengarkan masukan semua pandangan , pendapat , usulan , saran dan konsep dari para Pengurusnya. Sserta mengevaluasi kebijakan – kebijakan yang telah dilaksanakan.

Rapat Pleno adalah salah satu embrio untuk memutuskan kebijakan yang akan dijalankan selanjutnya oleh Partai. Jumlah rutinitas sering dan sedikitnya Rapat Pleno juga merupakan barometer apakah sebuah Parpol itu dinamis, progresif dan demokratis atau tidak.

Mengapa DPP Partai Golkar ada kesan seperti paranoid terhadap Rapat Pleno. Padahal Rapat Pleno tidak hanya membahas masalah – masalah Rapimnas dan Munas saja tapi lebih banyak membahas strategi dan langkah kebijakan partai yang cerdas dalam mennguntungkan buat Partai dalam mensikapi situasi dan kondisi yang terjadi saat ini .Memainkan momentum yang tepat adalah salah satu peran penting yang harus dilakukan partai Politik. Salah satu tugas pokok dari Partai politik adalah menyelamatkan masa depan .

Kursi Panas Ketua Umum Partai Golkar

Meningkatnya sskalasi suhu politik Internal Partai tidak lepas dari akan adanya Perang Tanding Gagasan dari para pendekar Partai Golkar dalam upaya untuk menduduki kursi Partai Golkar 1.

Memang ada berapa kandidat yang digadang-gadang tapi agaknya akan terjadi duel meet dari dua pigur saja. Peserta yang lain bisa ditafsirkan sebagai hak simbolis Demokratis.

Mengerasnya suasana menuju forum Musyawarah Nasional ( Munas ) karena ada Indikasi Ketua Umum Petahana dan Para Pendukungnya yang akan melakukan sistim Zona Marking dengan Tekling keras bila perlu dengan sempritan dan kartu merah. Hal ini terkesan takut gawangnya kebobolan karena lawan yang dihadapi mempunyai skill mumpuni.

Naiknya Airlangga Hartarto (AH) sebagai orang nomor satu di Partai Golkar dinilai berapa kalangan sebagai ” Lelucon Politik Situasional ” . Seperti diketahui AH dalam Munas di Bali yang lalu hanya menempati urutan ke 5 perolehan suara dari para Calon Ketum saat itu .Yang waktu itu dimenangkan oleh Setya Novanto namun ada tragedi yang menimpanya.

Akhirnya naiklah AH tepilih secara aklamasi. Sayangnya limpahan alternatif politik yang disematkan kepada AH tidak bisa merubah image sejarah bahwa dia adalah bukan sekedar pemimpin limpahan alternatif belaka.

Kepemimpinanya dinilai hanya bisa melakukan diksi dan narasi Politik Pinggiran ( Rimland Politik ) . Tidak mampu melakukan High kontek Politik dan mengekspos kekuatan SDM dan infrastruktur Partai Golkar guna melakukan kesepakatan dalam konstalasi politik Nasional. Hal lainnya dianggap belum memaksimalkan konsolidasi, kaderisasi politik dan ideologi partai.

Rival sang petahana sekarang bisa dikatakan pihak yang menganggap perlu adanya Pembaharuan dan Agresifitas dari Partai Golkar, yang dinilai lemot dalam kebijakan internal dan eksternalnya. Pertarungan memperebutkan kursi Partai Golkar 1 kali ini bisa disinonimkan sebagai “Modernization VS Status Qua”.

Tradisi dan Traumatik

Sebagai salah satu Partai Politik tertua yang ada saat ini gejolak Partai Golkar dianggap sebagai suhu politik di Negeri ini . Parpol – parpol yang ada saat ini adalah murid atau santri yang pernah mondok dan berguru dipartai Golkar .

Cikal bakal Partai Golkar mengkonsepsikan bahwa ini partai adalah untuk berkuasa .
Gen dan DNA di kontruksikan untuk berkuasa menjalankan Pemerintahan baik di pusat maupun di daerah.
Bukan mendominasi di Bidang Legeslatif .

Partai Besutan Orde Baru ini pernah mengalami traumatik sejarah dimana pada awal Reformasi pernah partai ini akan dibubarkan oleh Gusdur bersama , Ormas – Ormas dan LSM lainya . Karena dianggap sebagai Parpol pendukung rezim otoriterian.

Namun serangan total itu dapat dipatahkan oleh Pimpinan dan elit Golkar saat itu .
Golkar beradaptasi menjadi Partai Golkar yang Reformis .Shock Paranoid politik otoriterian pun dimainkan hal itu untuk tidak memberi Peluang Kepada Partai Golkar untuk memimpin Republik ini lagi .

Hal ini juga dimanfaatkan oleh rival politiknya untuk memarginalkan posisi Partai Golkar. Pimpinan , para elit dan stake holder partai Golkar akhirnya realistis agar partai tetap bertahan. Perlu adanya arah baru Perjuangan untuk memperoleh kekuasaan dari arah Pengusaan di bidang Eksekutif kearah Legeslatif walaupun tidak mutlak sepenuh nya .

Perselingkuhan penyimpangan DNA dan GEN asli nya membuat Partai Golkar sedikit terhuyung. Status sebagai Pengusa bermetamorfosis menjadi pengontrol dan peneriak .Sayangnya Partai Golkar lupa atau belum tuntas membuat konsep peralihan paradigma barunya dari The Struggle of Eksekutif menjadi The Struggle of Legislatif .

New Variable and Cultural tidak mampu dibuat dan diterjemahkan dalam kaderisasi dan konsolidasi Organisasi dan konsolidasi ideologi partai. Perubahan status Partai Golkar tadinya merupakan sebuah kapal induk telah berubah menjadi kapal fregart .

Keterbatasan ruang dan tempat membuat kader- kader terbaik Partai Golkar saling sikut berebut posisinya. Ketakutan tidak mendapat posisi yang terbaik didalam Partai karena korelasinya dengan jabatan tinggi dan terhormat yang akan didapat di tingkat Negara. Kadang pragmatis liar pun dijalankan. Inilah sebab utama para kader terbaik partai Golkar Exodus berImigrasi ke Parpol lain. Tradisi Partai Golkar yang Demoktatis dan menjalankan Prinsip Akomodatif telah hilang diterpa badai kenyataan .

Irredenta Partai Golkar

Seperti Bangsa Italia yang merindukan kejayaan masa lalu Partai Golkar juga mempunyai obsesi akan kejayaan masa lalunya.

Denyut gelora itu mulai tampak, wacana yang berkembang bahwa ada keinginan kuat dari Partai Golkar untuk memainkan perannya untuk mencalonkan kader terbaiknya untuk jadi Capres dan Cawapres dalam tahun 2024 adalah indikasi kearah itu.

Oleh karenanya itu Partai Golkar harus terlihat lebih Demoktatis dan menyatu, kompak serta menata manajemen kebih elegen lagi mlitansi kadernya harus dibangkit kembali.

Partai Golkar harus nenempatkan diri memainkan politik besar dan penting. Menjelmakan diri sebagai kekuatan politik yang serba bisa dan tangguh dalam kondisi situasi apapun.

Metamorfosis partai Golkar dari sebuah kapal induk menjadi kapal fregart adalah fakta. Tidak mustahil Partai Golkar akan bisa menciut lagi hanya menjadi sebuah kapal penangkap ikan. Semuanya trgantung dari nahkoda yang akan mengendalikannya.

Penulis

Chairuddin Simatupang

Dewan Pakar Partai Golkar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here