INAnews.co.id, Jakarta– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan akhir pekan ini, Jumat (13/6/2025), di zona merah. Indeks terpangkas signifikan sebesar 0,53% atau 38,305 basis poin ke level 7.166,065.
Pelemahan IHSG ini telah terjadi sejak awal sesi perdagangan. IHSG pada sesi pertama tidak mampu melampaui level pembukaannya, dan cenderung bergerak di rentang 7.149,61 hingga 7.192,66 sepanjang hari, seperti yang ditunjukkan data perdagangan.
Menurut laporan Pasardana.id dan CNBC Indonesia, penurunan IHSG ini sebagian besar dibebani oleh sentimen geopolitik global yang memanas, terutama kabar mengenai serangan militer Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada Jumat dini hari waktu setempat. Ketegangan di Timur Tengah, sebagai kawasan produsen minyak utama, mendorong investor global untuk berpindah ke aset-aset safe haven seperti emas.
Kompas.com juga mengkonfirmasi bahwa IHSG dan nilai tukar rupiah kompak melemah di akhir pekan. Sebanyak 364 saham tercatat turun, 241 saham naik, dan 200 saham tidak bergerak. Sektor teknologi mencatat koreksi terbesar, turun 1,11%.
Beberapa saham berkapitalisasi besar (big caps) juga mengalami pelemahan signifikan. Contohnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 1,72%, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 1,1%, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) merosot 6,37%, dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terkoreksi 4,48%.
Meskipun mayoritas sektor saham memerah, ada beberapa saham yang berhasil menguat, seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) yang melesat 27,87% dan PT Sentul City Tbk (BKSL) melonjak 6,25%.
Volume perdagangan mencapai 29,46 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp13,57 triliun. Investor asing tercatat melakukan jual bersih (net sell) saham senilai Rp 282,35 miliar pada perdagangan hari ini, menambah total jual bersih asing sepanjang 2025 menjadi Rp 49,06 triliun.
Analis sebelumnya memperkirakan IHSG akan bergerak volatil atau mixed hari ini, dengan sentimen dari negosiasi tarif AS dan perkembangan ekonomi domestik. Namun, sentimen eksternal yang tiba-tiba muncul tampaknya menjadi faktor dominan yang menekan pasar saham domestik.*






