Menu

Mode Gelap
Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun Otoriter ke Oligarki, Bukan ke Rakyat Indonesia Negara Paling Bahagia dan Optimis di Dunia Ganti Tujuh Menteri untuk Percepat Pengembalian Kedaulatan

TNI/POLRI

Komika Pandji Pragiwaksono Tolak Alasan Ketidaksengajaan Brimob Lindas Ojol

badge-check


					Foto: Pandji Pragiwaksono/tangkapan layar Perbesar

Foto: Pandji Pragiwaksono/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Komika Pandji Pragiwaksono menyampaikan pernyataan keras yang menyentak publik terkait tragedi tewasnya Afan Kurniawan (21) yang ditabrak dan dilindas mobil Barakuda Brimob. Dalam pernyataannya lewat channel YouTube-nya, Jumat, Pandji menolak mentah-mentah dalih ketidaksengajaan dan menuntut pertanggungjawaban serta perubahan sistemik dari aparat, DPR, hingga Presiden.

Pandji membuka pernyataannya dengan menyoroti rekaman video insiden yang menurutnya jelas menunjukkan kesengajaan. “Kecil sekali kemungkinan mobil tersebut tidak sengaja menabrak Afan. Kecil sekali,” tegasnya. Ia menegaskan bahwa bahkan jika tabrakan awal tidak disengaja, mustahil proses melindas korban juga merupakan sebuah kecelakaan.

Pernyataan itu dengan lantang menempatkan tragedi Afan bukan sebagai peristiwa isolated, melainkan bagian dari pola brutalitas aparat yang berulang. “Nama demi nama harus menjadi korban kekerasan oleh pihak yang tidak seharusnya menghabisi orang yang harusnya dilayani dan dilindungi,” serunya, menyoroti kegagalan institusi yang seharusnya melindungi.

Angle berita yang mencolok adalah penolakan Pandji untuk berdialog dalam keadaan emosi ini. Ia menyatakan rakyat sedang marah dan meminta kemarahannya diterima begitu saja oleh pihak berwenang yang memiliki kuasa dan senjata.

“Anda tidak bisa berdialog dengan orang yang lagi marah. Terima saja,” ujarnya. Namun, kemarahan ini bukan tanpa tujuan. Ia menegaskan bahwa setelah kemarahan reda, yang dituntut adalah “giliran mereka untuk bekerja” dan menghasilkan sebuah perubahan nyata.

Pandji kemudian mengarahkan pandangannya secara spesifik kepada tiga pemangku kekuasaan. DPR (Komisi III). Dinilainya naif jika para wakil rakyat menganggap aksi protes tidak ada kaitannya dengan mereka. Ia menantang DPR untuk menjembatani protes rakyat dan memicu perubahan melalui fungsi pengawasannya atas kepolisian.

Kapolri. Meski mengapresiasi langkah seperti bertemu keluarga dan mengusut tujuh anggota, Pandji menilai itu tidak cukup. “Itu sudah pernah terjadi sebelumnya. Harus ada sesuatu yang lahir dari kejadian ini,” tuturnya.

Presiden dan Wakil Presiden (Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka). Sebagai pimpinan tertinggi, keduanya diminta memastikan perlindungan bagi rakyat agar tragedi serupa tidak terulang.

Pidato ditutup dengan pertanyaan pedas yang menyentil janji para pemimpin tentang generasi emas Indonesia. “Afan Kurniawan usianya 21 tahun… Dialah yang oleh Bapak-bapak disebut bagian dari generasi emas. Apakah ini nasib generasi emas Indonesia?” tanya Pandji.

Jawabannya, ia serahkan sepenuhnya kepada para pemangku kebijakan, sambil menegaskan bahwa masyarakat tetap marah namun masih menanti tindakan yang konkret.

Pernyataan ini memperkuat gelombang tekanan publik terhadap aparat penegak hukum dan pemerintah untuk melakukan reformasi yang serius dan transparan, mengakhiri impunitas, dan memulihkan kepercayaan rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun

23 Januari 2026 - 21:55 WIB

Indonesia Negara Paling Bahagia dan Optimis di Dunia

23 Januari 2026 - 20:53 WIB

Indonesia Capai Swasembada Beras Pertama Kali dalam Bertahun-tahun

23 Januari 2026 - 19:50 WIB

Populer GLOBAL