INAnews.co.id, Jakarta– Prof. Dr. M. Syafi’i Antonio menyoroti budaya anti-kritik yang masih mengakar di kalangan pemimpin, baik pemerintah maupun tokoh agama, yang dinilainya menghambat kemajuan bangsa.
“Biasanya seorang profesor paling anti dikritik karena merasa paling tahu. Dosen anti dikritik, orang yang sudah belajar suka anti-kritik. Apalagi yang sudah disebut tuan guru, ustaz, kiai – paling anti dikritik karena merasa sudah tinggi,” kritik Antonio, lewat channel YouTube-nya, Ahad.
Menurutnya, sikap anti-kritik ini adalah sebab utama seseorang tidak bisa menjadi lebih baik. “Termasuk pemerintah. Pemerintah yang baik adalah yang siap dikritik rakyat, cendekiawan, analis agar kebijakannya lebih baik – bukan malah dimasukkan penjara,” tegasnya.
Antonio juga mengkritik tradisi pesantren di mana kiai dianggap sebagai raja yang tidak pernah salah. “Itu salah juga. Kita semua manusia, harus terbuka dengan kritik.”
Namun, Antonio menekankan pentingnya cara yang tepat dalam menyampaikan kritik. “Kalau kiai salah, jangan langsung ditembak di depan umum sehingga martabatnya turun. Datanglah dengan suasana tenang, bisikkan dengan sopan: ‘Mohon maaf Pak Kiai, tadi ayatnya ketukar’ atau ‘Hadisnya daif, semoga lain kali tidak digunakan lagi.'”
Dia menekankan bahwa keterbukaan terhadap kritik adalah salah satu ciri growth mindset yang harus dimiliki setiap pemimpin untuk terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat.






