INAnews.co.id, Jakarta– Tekanan eksternal kian mempertegas urgensi transisi energi bagi industri Indonesia. Asisten Deputi Percepatan Transisi Energi Kemenko Perekonomian Farah Heliantina mengingatkan bahwa kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa menegaskan bahwa akses pasar dan daya saing ekspor kini semakin terkait langsung dengan agenda dekarbonisasi.
“Listrik bersih bukan lagi pilihan komplementer, melainkan menjadi persyaratan akses pasar,” tegas Fara, Selasa. Sementara investasi global pada energi bersih pada 2025 mencapai USD 2,15 triliun, hampir dua kali lipat investasi pada bahan bakar fosil.
Jananta Egi Giwangkara dari Climate Work Center menambahkan, sinyal permintaan pasar global seperti CBAM harus segera dikaitkan ke dalam strategi industri nasional. Ia mencontohkan Gunung Raja Paksi yang sudah memproduksi green steel untuk memenuhi permintaan ekspor.
Selain listrik bersih, ia mengingatkan bahwa industri juga membutuhkan clean heat sebagai input proses produksi, segmen yang hingga kini belum memiliki regulasi di Indonesia. “Ini menjadi peluang bisnis baru yang masih sangat overlooked,” katanya.






