INAnews.co.id, Jakarta– Direktur Kolaborasi Internasional INDEF Imaduddin Abdullah mengidentifikasi tiga ketidakselarasan struktural yang selama ini menghambat integrasi antara pengembangan industri dan transisi energi di Indonesia.
Pertama, misalignment antara industri dan energi: permintaan listrik industri dari jaringan PLN justru turun dari 43 persen menjadi 31 persen, sementara kapasitas captive power berbasis fosil di luar jaringan meningkat hingga 10 persen. Kedua, misalignment spasial: daerah industri kuat umumnya tidak memiliki potensi energi terbarukan besar, dan sebaliknya. Ketiga, misalignment antara suplai dan permintaan: investasi FDI untuk manufaktur panel surya di Indonesia relatif besar, namun kapasitas terpasang PLTS masih jauh tertinggal dibanding negara tetangga.
“Kondisi ideal adalah manufaktur tumbuh seiring permintaan domestik agar investasi yang masuk dapat mendorong industrialisasi berbasis energi bersih secara berkelanjutan,” kata Imaduddin, Selasa.
REZ, menurut dia, dirancang untuk menjawab ketiga misalignment tersebut secara bersamaan, sebuah pendekatan killing two birds with one stone.






