INAnews.co.id, Jakarta– Pertumbuhan pasar modal syariah Indonesia dalam tiga tahun terakhir dinilai sebagai pergeseran struktural, bukan sekadar fluktuasi siklus ekonomi. Hal ini disampaikan oleh Associate Researcher CSED INDEF sekaligus dosen Trisakti, Nurhastuty Kusumo Wardhani, dalam wawancara di kanal INDEF, Selasa (14/4/2026).
Menurut Nurhastuty, akselerasi ini didorong oleh kerja agresif OJK yang berkolaborasi dengan MUI, ditandai dengan kelengkapan fatwa untuk seluruh transaksi pasar modal syariah dari awal hingga akhir. “Dunia telah menunggu raksasa Indonesia bangun. Progresnya signifikan karena fatwa sudah lengkap, variasi produk juga sudah tidak terbatas pada saham, tapi juga reksa dana syariah dan lain-lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) turut berperan aktif melakukan literasi keuangan syariah ke berbagai universitas, menyasar generasi Z dan milenial. Namun, pertanyaan kritisnya adalah apakah fondasi ini cukup kuat menghadapi gejolak global, atau hanya gebrakan semusim?






