INAnews.co.id, Jakarta– Fenomena ghost rich—tampil kaya di luar namun rapuh secara finansial—kini bukan lagi sekadar tren di kalangan generasi Z, melainkan merambah lintas generasi mulai dari milenial hingga generasi X. Pakar perencanaan keuangan syariah Indra Prakoso menegaskan hal tersebut dalam wawancara di kanal YouTube INDEF, Jumat (1/5/2026).
“Ini bukan sekadar masalah ekonomi, ini adalah kegagalan cara berpikir,” ujar Indra. Ia menyebut tekanan media sosial sebagai salah satu faktor utama yang mendorong orang berlomba menampilkan simbol kesuksesan, liburan ke luar negeri, gadget terbaru, dan gaya hidup premium, meski fondasi keuangan mereka sesungguhnya sangat rapuh.
Fenomena ini juga diperburuk oleh menjamurnya pinjaman online (pinjol) dan budaya paycheck-to-paycheck yang kian masif. Indra mengingatkan bahwa krisis keuangan tidak muncul tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari keputusan-keputusan kecil selama ribuan hari. “Kita melihat rekan-rekan yang penampilannya oke, tapi ujung-ujungnya pinjam Rp100.000 saja,” katanya.
Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya konsep qanaah dalam ekonomi Islam—bersikap cukup dan tidak berlebihan, bukan berarti melarang konsumsi, melainkan mendorong konsumsi yang benar-benar sesuai kebutuhan. Kekayaan sejati, tegasnya, bukan tentang apa yang terlihat, tetapi tentang apa yang bertahan saat krisis datang.






