Menu

Mode Gelap
INDEF: Ekonomi RI Melambat, Proyeksi TW2-2026 Hanya 5,1 Persen Rupiah Tertekan ke Rp17.400, BI tak Bisa Kerja Sendiri Defisit APBN Triwulan I Capai 0,93 Persen, Lampu Kuning Fiskal RI Perang Timur Tengah Ancam Fiskal dan Daya Beli RI Bank Banten Gelar RUPST Tahun Buku 2025, Tren Kinerja Semakin Melesat Respons Pengamat soal Yusril Usul Parliamentary Threshold Ikuti Jumlah Komisi DPR

NASIONAL

Defisit APBN Triwulan I Capai 0,93 Persen, Lampu Kuning Fiskal RI

badge-check


					Foto: Eko Listiyanto/tangkapan layar Perbesar

Foto: Eko Listiyanto/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada triwulan pertama 2026 telah mencapai 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), memunculkan kekhawatiran bahwa batas aman tiga persen bisa jebol sebelum akhir tahun.

Direktur Big Data INDEF, Eko Listiyanto, mengingatkan bahwa secara logika matematis, jika belanja per triwulan berjalan stabil, defisit sepanjang tahun bisa mencapai sekitar 3,7 persen. “Kalau 0,93 dikalikan empat, sekitar 3,7 persen. Inilah yang harus menjadi concern,” ujarnya dalam diskusi publik INDEF, Kamis (30/4/2026).

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Riza Annisa Pujarama, menambahkan bahwa tekanan fiskal sebenarnya sudah hadir sebelum konflik geopolitik memanas. Lima faktor utama menjadi pemicunya: gap pendapatan dan belanja yang melebar, defisit yang mendekati batas regulasi, keseimbangan primer yang negatif, beban pembayaran bunga utang yang tinggi, serta tren belanja subsidi energi dan belanja rutin yang terus meningkat.

Riza mencatat bahwa sekitar 60 persen belanja pemerintah pusat kini merupakan belanja operasional rutin, meliputi pembayaran bunga utang, belanja pegawai, dan belanja barang. “Belanja modal kita terus turun trennya,” tegasnya.

Di sisi lain, tiga variabel asumsi makroekonomi sekaligus meleset dari target: nilai tukar rupiah yang kini mendekati Rp17.400 per dolar AS, harga minyak mentah Indonesia yang sudah menyentuh 102 dolar AS per barel, serta imbal hasil surat berharga negara yang terus meningkat. ICP yang melonjak itu diperkirakan membutuhkan tambahan anggaran subsidi sekitar Rp19 triliun lebih dari yang telah dianggarkan.

Riza menekankan perlunya pengetatan disiplin fiskal dan evaluasi ulang skala prioritas belanja, terutama di tingkat pusat, agar ruang fiskal tidak semakin tergerus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Perang Timur Tengah Ancam Fiskal dan Daya Beli RI

1 Mei 2026 - 09:19 WIB

Mobil Listrik di Perlintasan Kereta: Pakar Kebijakan Publik Soroti Kegagalan Sistemik Transportasi Nasional

30 April 2026 - 17:19 WIB

Bimo Andono Pakar Kebijakan Publik Departemen Kajian Transportasi dan Konektivitas Wilayah Himpunan Alumni IPB

10 Luka dan Satu Jemaah Masih Dirawat Akibat Tabrakan Bus di Madinah

30 April 2026 - 14:57 WIB

Populer NASIONAL