INAnews.co.id, Jakarta– Nilai tukar rupiah yang kini mendekati Rp17.400 per dolar AS dinilai mencerminkan tekanan yang bersumber dari berbagai sisi sekaligus sehingga Bank Indonesia (BI) tidak dapat menanggung beban stabilisasi sendirian.
Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Abdul Manap Pulungan, mengatakan pelemahan rupiah bukan semata fenomena moneter. “Sumbernya bukan hanya dari sisi moneter, banyak hal, misalnya masalah fiskal yang berat, ketahanan energi yang pada akhirnya investor menilai ini bukan waktu yang tepat untuk mengoleksi portofolio di Indonesia,” ujarnya dalam diskusi publik INDEF, Kamis (30/4/2026).
Beberapa indikator mempertegas tekanan itu. Cadangan devisa menyusut dari 157 miliar dolar AS menjadi 148 miliar dolar AS setelah digunakan untuk intervensi di pasar. Credit default swap (CDS) Indonesia sudah melampaui level 100, sinyal bahwa investor menuntut imbal hasil lebih tinggi. Kepemilikan Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI) oleh investor asing juga anjlok sekitar 38 persen, dari Rp2,43 triliun menjadi Rp1,43 triliun pada Maret 2026.
Ironisnya, indeks dolar AS (DXY) yang cenderung melemah semestinya memberi ruang bagi rupiah untuk menguat, namun kondisi itu tidak bisa dimanfaatkan. “Ada permasalahan fundamental kenapa rupiah tetap terdepresiasi,” kata Manap.
Pelemahan rupiah yang tidak diimbangi perbaikan struktur ekspor juga dinilai kontraproduktif. Karena ekspor Indonesia masih didominasi bahan mentah, depresiasi tidak otomatis mendongkrak kinerja ekspor, justru mempermahal bahan baku impor yang dibutuhkan industri dalam negeri.
Manap merekomendasikan sejumlah langkah, antara lain memperluas kerja sama transaksi mata uang lokal dengan negara produsen minyak, mengoptimalkan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), serta mendorong reformasi pasar modal agar arus modal asing kembali masuk.






