Menu

Mode Gelap
The Hidden Defects: Cacat Hewan yang Bikin Qurban Kamu Jadi “Daging Biasa” INDEF: Ekonomi RI Melambat, Proyeksi TW2-2026 Hanya 5,1 Persen Rupiah Tertekan ke Rp17.400, BI tak Bisa Kerja Sendiri Defisit APBN Triwulan I Capai 0,93 Persen, Lampu Kuning Fiskal RI Perang Timur Tengah Ancam Fiskal dan Daya Beli RI Bank Banten Gelar RUPST Tahun Buku 2025, Tren Kinerja Semakin Melesat

KEUANGAN

Rupiah Tertekan ke Rp17.400, BI tak Bisa Kerja Sendiri

badge-check


					Foto: Abdul Manap Pulungan/tangkapan layar Perbesar

Foto: Abdul Manap Pulungan/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Nilai tukar rupiah yang kini mendekati Rp17.400 per dolar AS dinilai mencerminkan tekanan yang bersumber dari berbagai sisi sekaligus sehingga Bank Indonesia (BI) tidak dapat menanggung beban stabilisasi sendirian.

Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Abdul Manap Pulungan, mengatakan pelemahan rupiah bukan semata fenomena moneter. “Sumbernya bukan hanya dari sisi moneter, banyak hal, misalnya masalah fiskal yang berat, ketahanan energi yang pada akhirnya investor menilai ini bukan waktu yang tepat untuk mengoleksi portofolio di Indonesia,” ujarnya dalam diskusi publik INDEF, Kamis (30/4/2026).

Beberapa indikator mempertegas tekanan itu. Cadangan devisa menyusut dari 157 miliar dolar AS menjadi 148 miliar dolar AS setelah digunakan untuk intervensi di pasar. Credit default swap (CDS) Indonesia sudah melampaui level 100, sinyal bahwa investor menuntut imbal hasil lebih tinggi. Kepemilikan Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI) oleh investor asing juga anjlok sekitar 38 persen, dari Rp2,43 triliun menjadi Rp1,43 triliun pada Maret 2026.

Ironisnya, indeks dolar AS (DXY) yang cenderung melemah semestinya memberi ruang bagi rupiah untuk menguat, namun kondisi itu tidak bisa dimanfaatkan. “Ada permasalahan fundamental kenapa rupiah tetap terdepresiasi,” kata Manap.

Pelemahan rupiah yang tidak diimbangi perbaikan struktur ekspor juga dinilai kontraproduktif. Karena ekspor Indonesia masih didominasi bahan mentah, depresiasi tidak otomatis mendongkrak kinerja ekspor, justru mempermahal bahan baku impor yang dibutuhkan industri dalam negeri.

Manap merekomendasikan sejumlah langkah, antara lain memperluas kerja sama transaksi mata uang lokal dengan negara produsen minyak, mengoptimalkan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), serta mendorong reformasi pasar modal agar arus modal asing kembali masuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Perang Timur Tengah Ancam Fiskal dan Daya Beli RI

1 Mei 2026 - 09:19 WIB

Bank Banten Gelar RUPST Tahun Buku 2025, Tren Kinerja Semakin Melesat

30 April 2026 - 19:02 WIB

DADA Siap Bagi-Bagi Dividen sebesar Rp2 Miliar Di Tengah Lonjakan Laba Perseroan sebesar 216,70%

27 April 2026 - 22:52 WIB

Populer EKONOMI