INAnews.co.id, Jakarta– Lembaga kajian ekonomi INDEF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan kedua 2026 hanya mencapai 5,1 persen, melambat dibanding perkiraan triwulan pertama sebesar 5,4 persen, seiring melemahnya pertumbuhan kredit dan hilangnya momentum musiman Lebaran.
Direktur Big Data INDEF, Eko Listiyanto, menjelaskan bahwa laju pertumbuhan kredit perbankan yang masih di bawah sepuluh persen menjadi sinyal utama terbatasnya ekspansi ekonomi. Pada Februari 2026, kredit tumbuh hanya 9,3 persen, turun dari 9,6 persen pada Januari. Angka ini berada di bawah target pertumbuhan kredit BI sebesar 10-12 persen.
“Dengan pertimbangan seperti ini, kami memperkirakan untuk full year-nya INDEF belum merevisi outlook pertumbuhan ekonomi 2026, yaitu 5 persen,” ujar Eko dalam diskusi publik INDEF, Kamis (30/4/2026).
Eko menegaskan korelasi kuat antara laju kredit dan pertumbuhan ekonomi. Data historis sejak 2018 menunjukkan bahwa ketika kredit melambat, pertumbuhan ekonomi mengikuti pola serupa. Dengan kredit masih bergerak di kisaran single digit, target pemerintah sebesar 5,4 persen atau bahkan enam persen dinilai sulit tercapai.
Selain tekanan dari sektor perbankan, tiga risiko utama yang perlu diwaspadai sepanjang 2026 adalah pelebaran defisit fiskal, gejolak stabilitas makroekonomi termasuk depresiasi rupiah dan arus modal keluar, serta pelemahan daya beli masyarakat. Momentum konsumsi yang biasanya terkerek oleh Lebaran tidak akan berulang di triwulan kedua, sementara Iduladha dinilai memberikan dorongan yang jauh lebih kecil terhadap konsumsi.






