INAnews.co.id, Jakarta- Sudirman Said menyoroti bahwa nepotisme yang merajalela telah meruntuhkan motivasi generasi muda untuk berkompetisi secara sehat, karena mereka merasa prestasi tidak akan dihargai selama koneksi dan kerabat penguasa lebih diutamakan.
“Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, untuk apa berkompetisi, kalau pada akhirnya kita dikalahkan oleh nepotis-nepotisme itu,” ujar Sudirman mengutip kegelisahan anak muda di kanal YouTube-nya, Rabu. Ia menyebut ini sebagai gap fundamental antara kebutuhan kapasitas dan penyelenggaraan negara yang nyata saat ini.
Meski demikian, Sudirman mencatat capaian positif: lebih dari 25 juta orang kini berkuliah, ada 12 juta lebih sarjana, sekitar 75.000 doktor dan guru besar, serta lebih dari 10.000 alumni program kepemimpinan yang tersebar di pemerintahan, bisnis, dan masyarakat sipil. “Inilah waktunya Indonesia memanen talenta hasil investasi 80 tahun lamanya,” tegasnya.






