INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom Ferry Latuhihin menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp335 triliun sebagai salah satu penyebab utama pelemahan rupiah dan memburuknya keberlanjutan fiskal Indonesia.
Menurut Ferry, anggaran MBG jauh melampaui kebutuhan riil. Berdasarkan data Susenas, ia memperkirakan anak sekolah yang benar-benar kekurangan gizi hanya sekitar 7 juta orang, bukan 83 juta seperti yang dijadikan sasaran program. Dengan demikian, anggaran yang dibutuhkan seharusnya tidak lebih dari Rp10 triliun.
Ia juga mengkritik pelaksanaan program yang langsung diterapkan secara massal tanpa tahap uji coba (piloting). “Biasanya kan kita piloting dulu 10 sekolah, 20 sekolah, jalan apa enggak logistiknya,” ujarnya dalam wawancara di kanal YouTube Gerakan Rakyat, Jumat (29/5/2026).
Ferry memperingatkan bahwa debt service ratio Indonesia kemungkinan sudah mencapai 25 persen, jauh melampaui ambang batas 15 persen yang menjadi sinyal lampu kuning bagi lembaga pemeringkat. Ia mendesak pemerintah segera memoaratorium MBG untuk mencegah downgrade rating oleh S&P dari BBB menjadi BBB minus, yang berpotensi membuat Indonesia kehilangan status investment grade.






