Menu

Mode Gelap
Rupiah Nyungsep, Tukang Jahit hingga Petani Tempe Kena Getahnya Kebijakan Dibuat Jumat, Dibatalkan Senin: Pasar Muak Diombang-ambing Rp830 Triliun Jatuh Tempo, Bahaya Terbesar Bukan Bunganya Data Fiskal yang Mencerminkan Pola Belanja Ugal-ugalan Rupiah Bukan Hanya Kalah dari Dolar, tapi Juga Kalah dari Baht Kemenko: Insentif EV Harus Dievaluasi, Ekosistem Belum Lengkap

EKONOMI

Rupiah Bukan Hanya Kalah dari Dolar, tapi Juga Kalah dari Baht

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom Dipo Satria Ramli menepis narasi pemerintah yang selalu mengaitkan pelemahan rupiah dengan ketidakpastian geopolitik global. Menurutnya, nilai tukar rupiah tidak hanya melemah terhadap dolar Amerika Serikat tetapi juga terdepresiasi terhadap dolar Singapura, ringgit Malaysia, bahkan baht Thailand, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan semata oleh faktor eksternal.

“Kita melemah melawan Singapura, Malaysia, bahkan Thailand. Artinya ada sesuatu yang fundamental, ada yang struktural di ekonomi kita,” ujar Dipo dalam wawancara bersama Abraham Samad pada Kamis (21/5/2026). Ia menilai kondisi rupiah yang sudah di kisaran Rp17.600 per dolar AS sebagai hasil akumulasi salah kelola sebelum guncangan geopolitik datang.

Dipo mengibaratkan kondisi ekonomi Indonesia seperti orang yang sudah lemah sebelum diterpa angin. “Kita kayak kasarnya ditiup aja goyang,” katanya. Ia menyebut perang Iran-Israel hanya menjadi pemicu yang memperparah, bukan penyebab tunggal, sehingga melempar seluruh tanggung jawab ke geopolitik dinilainya tidak jujur.

“Pemerintah bilang aman-aman, tapi rupiah naik terus. Semua negara sudah merevisi pertumbuhan ekonominya, Indonesia saja yang masih merasa paling hebat,” katanya heran.

Ia mencatat bahwa lembaga pemeringkat Moody’s pada Februari 2026 telah menyoroti tiga masalah utama Indonesia: kebijakan yang kerap berubah-ubah, institusi yang kurang transparan dan akuntabel, khususnya menyebut Danantara dan MBG, serta defisit fiskal. Dua dari tiga masalah itu bahkan bukan soal angka, melainkan soal tata kelola.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Rupiah Nyungsep, Tukang Jahit hingga Petani Tempe Kena Getahnya

22 Mei 2026 - 23:22 WIB

Kebijakan Dibuat Jumat, Dibatalkan Senin: Pasar Muak Diombang-ambing

22 Mei 2026 - 21:20 WIB

Bursa saham

Rp830 Triliun Jatuh Tempo, Bahaya Terbesar Bukan Bunganya

22 Mei 2026 - 19:15 WIB

Populer KEUANGAN