Menu

Mode Gelap
ASPERINDO Bantah Penyedia Jasa Logistik Jadi Penyebab Mahalnya Biaya Distribusi Nasional Rupiah Bisa Rp10.000 per Dolar, Ini Syaratnya Anggota Polri Berpeluang Rangkap Jabatan Sipil Lebih Luas Pemkab Bogor Janji Keluarkan Surat Edaran Pencegahan LGBT Habiburokhman Dinilai Lecehkan Kapolri-Kapolri Terdahulu Rupiah Melemah, IHSG Anjlok: Bukti Tata Kelola Fiskal Buruk

UPDATE NEWS

ASPERINDO Bantah Penyedia Jasa Logistik Jadi Penyebab Mahalnya Biaya Distribusi Nasional

badge-check


					Foto: Sonny Harsono, dok. ist Perbesar

Foto: Sonny Harsono, dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Dewan Penasihat Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (ASPERINDO), Sonny Harsono, menegaskan bahwa pelaku usaha logistik bukan penyebab tingginya biaya logistik nasional yang selama ini kerap menjadi sorotan. Sebaliknya, penyedia jasa logistik justru terus berupaya mendorong efisiensi guna meningkatkan daya saing dunia usaha dan perekonomian nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Sonny dalam pertemuan yang dihadiri 15 Ketua Umum asosiasi logistik nasional di Resto Parle, Senayan, Jakarta, Sabtu (13/6/2026) sore. Forum itu membahas berbagai persoalan yang dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya biaya logistik di Indonesia, termasuk munculnya sejumlah komponen biaya baru pada layanan kargo udara.

Salah satu isu yang menjadi perhatian bersama adalah pemberlakuan biaya Jasa Pemeriksaan Keamanan Kargo dan Pos (Jasper/Jaster) sebesar Rp700 per kilogram serta Cargo Handling Charge (SGHA) sebesar Rp340 per kilogram. Pelaku usaha menilai biaya tambahan tersebut berpotensi meningkatkan beban operasional dan pada akhirnya memengaruhi biaya distribusi barang.

Sonny mengatakan, selama ini pelaku logistik kerap menjadi pihak yang disalahkan atas tingginya biaya logistik nasional. Padahal, menurutnya, terdapat banyak faktor lain yang turut memengaruhi tingginya biaya distribusi di Indonesia.

“Saya senada dengan yang disampaikan Sekjen ASPERINDO, Tekad Sukatno. Kita juga bukan penyebab tingginya biaya logistik. Justru kita ingin mendorong efisiensi cost of logistics agar biaya usaha menjadi lebih kompetitif,” ujar Sonny.

Ia menambahkan, salah satu tantangan terbesar saat ini berada pada sektor logistik udara yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya operasional, termasuk harga avtur dan berbagai biaya tambahan lainnya.

“Selama ini orang sering melihat faktor eksternal seperti gejolak global atau harga avtur. Tetapi ternyata bukan itu saja. Sekarang muncul biaya-biaya baru seperti Jaster dan SGHA yang sebelumnya tidak ada. Ini tentu menjadi perhatian bersama,” katanya.

Menurut Sonny, apabila Indonesia ingin meningkatkan daya saing ekonomi, maka efisiensi biaya logistik harus menjadi agenda bersama seluruh pemangku kepentingan. Ia menilai biaya logistik yang tinggi akan berdampak langsung terhadap biaya berusaha atau cost of doing business di Indonesia.

“Kalau kita bicara efisiensi biaya logistik, saya kira semua sepakat. Cost of doing business harus dibuat lebih mudah dan lebih efisien supaya Indonesia semakin kompetitif,” tegasnya.

Lebih lanjut, Sonny berharap, seluruh asosiasi logistik dapat menyatukan pandangan dan menyampaikan aspirasi secara bersama kepada pemerintah.

Selain itu, ia menekankan, industri logistik tidak ingin terus-menerus dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tingginya biaya logistik nasional.

“Kita hadir di sini untuk satu suara. Jangan sampai pelaku logistik terus menjadi pihak yang tertuduh. Yang kita perjuangkan adalah terciptanya ekosistem logistik yang lebih efisien dan sehat bagi seluruh pelaku usaha,” ujar Sonny.

Forum yang dihadiri 15 Ketua Umum asosiasi logistik nasional itu juga menjadi wadah bagi para pelaku usaha untuk menyampaikan aspirasi dan persoalan yang mereka hadapi di lapangan. Hampir seluruh perwakilan dan Ketua Umum mengungkapkan keprihatinan yang sama terkait semakin banyaknya komponen biaya yang muncul dalam layanan logistik, terutama pada moda transportasi udara.

Semua penyedia jasa logistik senada dengan ASPERINDO, penambahan biaya-biaya baru tersebut berpotensi memperbesar beban operasional perusahaan dan pada akhirnya berdampak terhadap biaya logistik nasional yang selama ini justru tengah diupayakan untuk ditekan. Keprihatinan lainnya adalah setiap kali ada regulasi baru selalu saja ada potensi munculnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pengusaha.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Anak Agung Pertanyakan Kapan Penetapan Eksekusi MA atas Yayasan Trisakti Dilaksanakan

12 Juni 2026 - 18:31 WIB

IPB Siap Jadi Kampus Percontohan Energi Terbarukan

12 Juni 2026 - 18:28 WIB

Abdul Ghoni Serahkan SK AHU FORKABI 2026-2031 ke Gubernur Pramono di Balai Kota

12 Juni 2026 - 13:25 WIB

Populer DAERAH