INAnews.co.id, Jakarta– Kenaikan harga Pertamax sebesar 32 persen pada 10 Juni 2025 memantik reaksi keras dari masyarakat di media sosial. Wahyu Tri Utomo, Data Scientist Continuum Index, mengungkapkan bahwa pihaknya menghimpun sekitar 648.000 data percakapan dari platform X, komentar YouTube, dan tren Instagram dalam rentang 9–11 Juni 2025.
“Ketika kita exclude sentimen netral, dominasinya adalah negatif. Dominasi utama ada pada emosi marah,” kata Wahyu dalam Diskusi Publik INDEF, Ahad (14/6/2026).
Kemarahan publik dipicu oleh dua hal utama: inkonsistensi pemerintah yang sebelumnya menyatakan stok BBM aman, serta persepsi bahwa kenaikan ini semakin memperburuk kondisi ekonomi yang sudah tertekan. Selain marah, emosi takut dan sedih juga mendominasi percakapan.
Wahyu menambahkan, meski Pertamax dikonsumsi kelas menengah, dampak domino kenaikannya tidak bisa diabaikan. Ia memperingatkan potensi pergeseran konsumsi ke Pertalite yang dapat memicu kelangkaan dan kenaikan harga pokok secara berantai.






