INAnews.co.id, Jakarta– Rizal Taufikurahman, Kepala Center of Macroeconomic and Finance INDEF, memperingatkan bahwa target pertumbuhan ekonomi 5,8–6,5 persen dalam RAPBN 2027 tidak akan tercapai tanpa reformasi belanja yang serius dan perlindungan nyata terhadap daya beli masyarakat.
Ia menyebut kenaikan BBM non-subsidi berpotensi mendorong inflasi hampir satu persen, dengan efek lanjutan pada sektor pangan, transportasi, konstruksi, dan logistik. Skenario migrasi konsumen ke Pertalite, kata Rizal, justru akan memperbesar beban subsidi dan menekan kapasitas fiskal.
“Kredibilitas fiskal dan perbaikan daya beli menjadi kunci. Lapangan kerja harus diciptakan, upah riil harus lebih baik,” tegasnya dalam Diskusi Publik INDEF, Ahad (14/6/2026).
Ia merekomendasikan empat pilar utama dalam RAPBN 2027: optimalisasi penerimaan negara, efisiensi belanja yang berorientasi produktivitas, pengelolaan defisit dan utang yang terukur, serta evaluasi transfer ke daerah agar lebih tepat sasaran.






