INAnews.co.id, Jakarta– Nama Samsul Hidayah (27) mungkin belum banyak dikenal orang tetapi warga Jakarta Utara dan jutaan pengguna TikTok tentu tidak asing dengan sosok “Ayah Baim”, pemilik akun @BAIMOFFICIAL_13 yang kini memiliki hampir 698 ribu pengikut dengan lebih dari 14 juta tanda suka. Di balik popularitas itu, ada kisah panjang tentang cinta, dedikasi, dan misi edukasi terhadap kesejahteraan primata.
Bermula dari Permintaan Sang Anak
Ayah Baim tidak pernah merencanakan menjadi pemelihara primata. Semuanya berawal dari sang anak yang kerap menonton video monyet dan beruk lucu di media sosial, lalu meminta dibelikan seekor.
“Sebagai orang tua, saya menuruti keinginannya karena dia memang sangat penyayang binatang,” ujarnya kepada media di kediamannya di Koja, Jakarta Utara, Rabu (17/6/2026).
Seekor monyet bernama Baim pun hadir di rumah. Saat itu, Ayah Baim mengaku sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang cara merawat primata.
Saat Baim menginjak usia satu tahun dan mulai menunjukkan perilaku nakal, Ayah Baim sempat berniat menyerahkannya kepada orang lain. Calon pengadopsi bahkan sudah datang ke rumah. Namun, sang anak menangis histeris dan memeluk Baim erat-erat hingga rencana itu urung dilaksanakan.
“Mungkin sudah rezekinya di sini,” kenang Ayah Baim. Tak lama setelah kejadian itu, ia iseng membuat akun TikTok untuk Baim, dan hasilnya di luar dugaan. Kini Baim, bersama seekor beruk bernama Zero, menjadi maskot dan ikon akun tersebut.
Enam Primata, Satu Misi
Saat ini Ayah Baim mengasuh enam ekor primata. Sebagian besar merupakan hasil rescue dan hibahan dari pemilik-pemilik sebelumnya yang tidak lagi sanggup merawat mereka.
Salah satunya adalah Zero, beruk berusia 15 tahun yang ia selamatkan dari pemilik di Bekasi. Ada pula Dexter dan Memei, yang diserahkan secara sukarela oleh pemilik lamanya. Ayah Baim membentuk koloni kecil bagi mereka agar tidak hidup sendiri.
“Banyak orang di luar sana yang hanya menyukai primata saat mereka masih kecil dan lucu. Ketika sudah besar dan mulai nakal, mereka hanya mengurungnya di dalam kandang. Itu tindakan yang salah,” tegasnya.
Gerakan rescue ini, diakui Ayah Baim, murni lahir dari inisiatif pribadi tanpa pendampingan lembaga resmi mana pun.

Foto: aviari primata dari Ayah Baim
Mantan Pelatih yang Pahami Psikologi Primata
Latar belakang Samsul sebagai mantan pelatih beruk dan monyet menjadi modal besar dalam merawat hewan-hewan tersebut. Ia memahami bahwa primata memiliki hierarki sosial tersendiri, ada yang berkarakter alfa (pemimpin) dan ada yang beta (bawahan).
“Contohnya Bastian (beruk peliharaan teman) yang berkarakter alfa, sementara Zero meski badannya besar dan sudah 15 tahun, karakternya beta. Kalau didekatkan dengan Bastian, Zero langsung terlihat ketakutan,” jelasnya.
Pemahaman itulah yang membuatnya mampu menangani primata-primata tersebut tanpa ada insiden serangan terhadap warga, termasuk anak-anak kecil di lingkungan sekitar.
Perawatan Totalitas: Dari Popok hingga Kunyit
Merawat enam primata bukan perkara sepele. Ayah Baim menyebut urusan kebersihan sebagai tantangan harian terbesar, seekor primata bisa buang air besar lebih dari sepuluh kali sehari.
“Habis makan pasti pup, lagi mandi pup, bahkan kalau takut pun langsung pup,” ujarnya sambil tertawa. Untuk itu, ia memakaikan popok pada primata-primatanya, namun hanya saat interaksi atau bepergian agar tidak menimbulkan iritasi.
Soal kesehatan, ia rutin memberikan vaksinasi rabies setahun sekali dan suntikan vitamin secara berkala. Untuk sakit ringan, ia mengandalkan ramuan tradisional, rebusan kunyit dicampur madu untuk pilek dan demam, serta air garam sebagai pertolongan pertama saat diare.
Ia juga aktif dalam komunitas South Monkey sebagai wadah berbagi ilmu dan pengalaman sesama pemelihara primata.
Viral hingga Temui Bupati Indramayu
Popularitas Baim dan Zero bahkan membawa Ayah Baim bertemu Lucky Hakim, Bupati Indramayu. Dalam kunjungan tersebut, Lucky Hakim sempat menyuapi Zero secara langsung dan terkesan dengan ketenangan hewan itu.
“Biasanya kera yang lain kalau ditaruh makanan langsung serakah diambil semua. Ini tenang sekali. Mantap!” ujar Lucky Hakim takjub.
Sang bupati juga memuji cara Ayah Baim dalam mengadaptasikan primata untuk hidup berdampingan dengan manusia, bukan sekadar menjinakkannya.

Foto: Ayah Baim (kanan) bersama Bupati Indramayu Lucky Hakim
Dukungan Lingkungan dan Pesan untuk Masyarakat
Ketua RT 13/8 Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara, Nurul Jamil menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan Ayah Baim. Selain tidak pernah ada laporan keluhan dari warga, ia juga dikenal sebagai donatur aktif kegiatan kampung.

Foto: Ketua RT 13/08 Koja, Jakarta Utara, Nurul Jamil
Meski demikian, Ayah Baim justru dengan tegas menyarankan masyarakat umum untuk tidak memelihara primata sembarangan.
“Merawat primata membutuhkan 90 persen waktu kita sehari-hari, biayanya sangat mahal, dan risikonya besar, dari kerusakan rumah hingga jerat hukum jika hewan Anda melukai orang lain,” katanya.
Ia pun mengingatkan bahwa jenis yang ia pelihara, Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dan Beruk (Macaca nemestrina), termasuk dalam kategori Appendix II CITES, yang berarti boleh dipelihara dengan syarat pemiliknya benar-benar sanggup, berkomitmen, dan memahami ilmunya.
“Primata pada hakikatnya adalah satwa liar. Jika belum siap secara totalitas, lebih baik peliharalah kucing atau anjing,” pungkasnya.






