INAnews.co.id, Jakarta– Sektor pariwisata ramah muslim Indonesia mengalami penurunan drastis dalam SGIE 2025-2026. Dari posisi pertama yang dipertahankan selama dua tahun berturut-turut (2023 dan 2024), Indonesia kini tak lagi masuk lima besar.
Peneliti INDEF, Handi Risza, menilai penurunan ini bukan semata karena Indonesia stagnan, melainkan karena negara-negara pesaing bergerak jauh lebih agresif.
“Skor kita mungkin stabil, tetapi negara lain bergerak jauh lebih cepat untuk merebut pasar wisata halal global,” ujarnya dalam diskusi yang disiarkan Senin (8/6/2026).
Ia mengidentifikasi beberapa penyebab utama: lemahnya promosi digital, terbatasnya konektivitas penerbangan langsung ke destinasi wisata potensial, dan masih adanya kesalahpahaman bahwa wisata muslim identik dengan islamisasi destinasi.
“Konsepnya adalah extended service, layanan tambahan seperti makanan halal dan fasilitas ibadah, tanpa membatasi wisatawan umum,” jelasnya.
Handi merekomendasikan percepatan transformasi digital, peningkatan infrastruktur konektivitas, serta pelatihan sumber daya manusia berstandar pelayanan internasional.






