INAnews.co.id, Jakarta– Sektor industri nasional menghadapi perlambatan serius yang diperparah oleh perilaku perbankan yang lebih memilih memarkirkan dana di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ketimbang menyalurkan kredit ke sektor riil.
Andry Satrio Nugroho, Kepala Center of Industry, Trade and Investment INDEF, menjelaskan bahwa total SRBI yang diserap pada 29 Mei 2026 mencapai 40 triliun rupiah, jauh di atas rata-rata historis 16 triliun rupiah. Kondisi ini mempersempit ruang ekspansi kredit industri.
“Perbankan sudah mulai waspada. Mereka memarkirkan dananya di tempat yang jauh lebih aman karena di sisi lain industrinya sedang melambat,” ujar Andry dalam Diskusi Publik INDEF, Ahad (14/6/2026).
Data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia per Mei 2026 stagnan di angka 50, sementara pesanan ekspor turun tiga bulan berturut-turut sejak konflik Selat Hormuz. Penjualan semen merosot di kuartal pertama, dan kelompok makanan-minuman yang biasanya tumbuh di atas delapan persen justru mencatat pertumbuhan negatif pada April.
Andri merekomendasikan realokasi belanja modal yang saat ini baru terealisasi 81,6 triliun rupiah atau sekitar 30 persen dari pagu, serta pemberian bantalan fiskal bagi kelas menengah yang rentan jatuh ke kategori miskin akibat kenaikan harga energi.






