INAnews.co.id, Jakarta– Peru menyimpan ironi besar sebagai salah satu produsen emas terbesar dunia. Namun seluruh hasil tambangnya langsung diekspor ke Swiss tanpa diolah terlebih dahulu, sehingga rakyat Peru justru harus mengimpor kembali perhiasan emas dari Swiss dengan harga mahal.
Hal itu diungkapkan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Peru merangkap Bolivia periode 2018–2023, Marina Estella Anwar Bey, dalam wawancara di kanal YouTube Newlitics yang tayang Rabu (24/6/2026).
“Saya kadang-kadang suka kasihan. Mereka emas nomor satu tapi rakyatnya enggak ada yang pakai emas karena langsung diekspor ke Swiss,” ujar perempuan yang akrab disapa Dubes Stella itu.
Ia menambahkan, jika warga Peru ingin membeli perhiasan, mereka terpaksa mengimpornya kembali dari Swiss sehingga harganya menjadi sangat mahal. Kondisi serupa terjadi pada komoditas ikan. Ikan-ikan kecil bergizi tinggi yang melimpah di perairan Peru semuanya diekspor, sementara masyarakat setempat tidak mengonsumsinya.
Menurut Dubes Stella, Peru merupakan negara yang kaya sumber daya alam, dengan ekspor utama berupa emas, perak, timah, dan baja, namun tidak memiliki industri pengolahan yang memadai. “Mereka menyatakan sendiri, kami menyesal tidak punya pabrik-pabrik dulu,” tuturnya.






