INAnews.co.id, Jakarta– Salah satu pembeda terbesar ekosistem industri kreatif (inkraf) Korea Selatan (Korsel) dengan Indonesia terletak pada cara lembaga keuangan memandang kekayaan intelektual. Di Korea, intellectual property (IP) dan basis penggemar (fandom base) sudah diakui sebagai aset yang bisa dijadikan jaminan pinjaman, sebuah hal yang masih sulit terwujud di Indonesia.
Sia Nawir mengisahkan perjalanan Big Hit Entertainment, agensi kecil yang hampir bangkrut di awal 2010-an sebelum mendapat kucuran dana dari venture capital. Keputusan itu terbukti monumental, Big Hit kemudian melahirkan BTS dan berkembang menjadi salah satu perusahaan hiburan terbesar di Asia.
“Kalau di Indonesia, bank masih akan tanya sertifikat tanah. Tapi di Korea, fandom base dan IP sudah dianggap bankable asset,” ujar Sia. Ia mendorong perbankan dan lembaga keuangan Indonesia untuk mulai mengadopsi pendekatan serupa agar industri kreatif lokal dapat berkembang dan bersaing di level global.






