INAnews.co.id, Jakarta– Para ekonom dan pengamat yang hadir dalam forum Indonesia Leaders Talk (ILT) seri ke-269, Sabtu (30/5/2026), sepakat pada satu benang merah: masalah rupiah tidak akan selesai hanya dengan intervensi Bank Indonesia, dan kunci pemulihannya terletak pada konsistensi serta kredibilitas kebijakan pemerintah.
Tauhid Ahmad (INDEF) menegaskan bahwa Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendiri. Langkah moneter seperti kenaikan suku bunga 50 basis poin memang progresif, namun harus diiringi perbaikan fiskal dan stabilitas sistem keuangan. “Kebijakan-kebijakan yang mendadak, meskipun tujuannya baik, dalam situasi saat ini justru menjadi hal yang tidak pas momentumnya,” ujarnya.
Mardani Ali Sera merumuskan tiga solusi jangka menengah: pertama, jangan meremehkan dampak pelemahan rupiah karena imbasnya terasa hingga tingkat rumah tangga; kedua, perlu titik temu antara visi besar pemerintah dengan tuntutan kehati-hatian fiskal dari pasar; ketiga, produktivitas nasional harus segera dibenahi mengingat deindustrialisasi, ekspor yang lesu, dan pertanian yang belum dalam.
Budiawan dari Litbang Kompas mendorong pemerintah untuk merelokasi anggaran yang selama ini terkonsentrasi di tiga pos besar — MBG, pertahanan, dan keamanan — secara lebih optimal agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat lapis bawah.
Adapun Dahlan Iskan mengingatkan bahwa peluang nyata dari pelemahan rupiah hanya bisa dimanfaatkan jika ada kebijakan sektor riil yang konsisten, bukan yang berubah-ubah. “Yang terpenting bagi pelaku usaha adalah stabil. Berapapun kursnya, yang penting bisa diprediksi,” pungkasnya dari Nanning, Tiongkok.






