Menu

Mode Gelap
Prabowo: 2045 Indonesia Jadi Ekonomi Keempat Terbesar Dunia Tiga Tahun Lagi Kita Kuat di Energi, Kata Presiden Tekiro dan ITS Surabaya Kembali Gelar Servis Gratis Dan Pelatihan Otomotif Untuk Masyarakat Surabaya Prabowo Minta Pengusaha Muda Jadi Patriot Ekonomi, Jangan Bawa Kabur Kekayaan Prabowo: 1.000 Kawan Terlalu Sedikit, Satu Lawan Terlalu Banyak Saut Situmorang Sebut Korupsi MBG Merampok Orang Lapar, Desak Purbaya Diperiksa

KEUANGAN

Stabilitas Kebijakan Kunci Selamatkan Rupiah

badge-check


					Stabilitas Kebijakan Kunci Selamatkan Rupiah Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta– Para ekonom dan pengamat yang hadir dalam forum Indonesia Leaders Talk (ILT) seri ke-269, Sabtu (30/5/2026), sepakat pada satu benang merah: masalah rupiah tidak akan selesai hanya dengan intervensi Bank Indonesia, dan kunci pemulihannya terletak pada konsistensi serta kredibilitas kebijakan pemerintah.

Tauhid Ahmad (INDEF) menegaskan bahwa Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendiri. Langkah moneter seperti kenaikan suku bunga 50 basis poin memang progresif, namun harus diiringi perbaikan fiskal dan stabilitas sistem keuangan. “Kebijakan-kebijakan yang mendadak, meskipun tujuannya baik, dalam situasi saat ini justru menjadi hal yang tidak pas momentumnya,” ujarnya.

Mardani Ali Sera merumuskan tiga solusi jangka menengah: pertama, jangan meremehkan dampak pelemahan rupiah karena imbasnya terasa hingga tingkat rumah tangga; kedua, perlu titik temu antara visi besar pemerintah dengan tuntutan kehati-hatian fiskal dari pasar; ketiga, produktivitas nasional harus segera dibenahi mengingat deindustrialisasi, ekspor yang lesu, dan pertanian yang belum dalam.

Budiawan dari Litbang Kompas mendorong pemerintah untuk merelokasi anggaran yang selama ini terkonsentrasi di tiga pos besar — MBG, pertahanan, dan keamanan — secara lebih optimal agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat lapis bawah.

Adapun Dahlan Iskan mengingatkan bahwa peluang nyata dari pelemahan rupiah hanya bisa dimanfaatkan jika ada kebijakan sektor riil yang konsisten, bukan yang berubah-ubah. “Yang terpenting bagi pelaku usaha adalah stabil. Berapapun kursnya, yang penting bisa diprediksi,” pungkasnya dari Nanning, Tiongkok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Keuangan Syariah Indonesia Masih Jalan Sendiri

11 Juni 2026 - 06:47 WIB

Ekonom: Rupiah Bisa Tembus Rp25.000 per Dolar

10 Juni 2026 - 09:45 WIB

Utang Baru untuk Bayar Bunga Utang Lama

9 Juni 2026 - 12:05 WIB

Populer KEUANGAN