INAnews.co.id, Jakarta– Peneliti INDEF Tauhid Ahmad mengungkap sebuah anomali yang patut diwaspadai: sejak kuartal ketiga 2025, rupiah terus melemah justru pada saat indeks dolar AS (DXY) berada di bawah 100, kondisi yang semestinya membuat mata uang negara berkembang menguat terhadap dolar.
“Ringgit Malaysia menguat, Singapura menguat, kita justru melemah. Ini bukan ansih kekuatan dolar AS, tapi ada faktor internal yang perlu diperbaiki,” ujar Tauhid dalam forum Indonesia Leaders Talk (ILT), Sabtu (30/5/2026).
Ia menyebut anomali ini sebagai sinyal bahwa masalah bukan semata dari luar, melainkan dari dalam negeri. Salah satu indikatornya adalah kinerja pasar saham: indeks Indonesia per Maret 2026 tercatat negatif 18,49 persen, jauh lebih buruk dibanding Vietnam yang hanya minus 6 persen, sementara Korea, Brasil, Thailand, Turki, dan Singapura justru positif dalam periode global yang sama.
Kondisi diperparah dengan dikeluarkannya 18 emiten Indonesia dari indeks MSCI, yang menandakan penurunan kepercayaan investor asing terhadap tata kelola pasar modal dalam negeri.
Tauhid juga menyoroti risiko fiskal yang mengintai: penerimaan negara pada 2025 meleset 8–9 persen dari target, dan gap tersebut diperkirakan semakin lebar pada 2026. Di sisi lain, subsidi BBM yang dipertahankan di tengah kurs Rp17.500 per dolar berpotensi membengkak ratusan triliun rupiah di atas alokasi APBN awal yang dihitung pada kurs Rp16.500.
“Kalau defisit sampai 2,9 persen, itu akan jauh lebih berisiko di mata investor,” katanya, seraya menyerukan transparansi fiskal kepada publik agar kepercayaan investor dapat pulih.






