Menu

Mode Gelap
Prabowo: 2045 Indonesia Jadi Ekonomi Keempat Terbesar Dunia Tiga Tahun Lagi Kita Kuat di Energi, Kata Presiden Tekiro dan ITS Surabaya Kembali Gelar Servis Gratis Dan Pelatihan Otomotif Untuk Masyarakat Surabaya Prabowo Minta Pengusaha Muda Jadi Patriot Ekonomi, Jangan Bawa Kabur Kekayaan Prabowo: 1.000 Kawan Terlalu Sedikit, Satu Lawan Terlalu Banyak Saut Situmorang Sebut Korupsi MBG Merampok Orang Lapar, Desak Purbaya Diperiksa

NASIONAL

Petani Sawit Buntung Akibat Rupiah Lemah

badge-check


					Petani Sawit Buntung Akibat Rupiah Lemah Perbesar

INAnews.co.id, Jakarta– Dari Nanning, ibu kota Provinsi Guangxi, Tiongkok Selatan, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menyampaikan pesan yang tajam: ketika rupiah melemah, petani sawit Indonesia seharusnya menikmati berkah ekspor seperti petani kakao di 1998 tetapi kebijakan baru pemerintah justru membuat mereka menjadi korban.

Dalam rekaman video yang diputar di forum Indonesia Leaders Talk (ILT), Sabtu (30/5/2026), Dahlan menceritakan seorang kenalannya yang memiliki kebun sawit 10 hektare. Petani itu mengeluh karena pembeli tidak lagi mau mengambil sawitnya akibat ketidakjelasan aturan ekspor, apakah harus melalui Danantara atau tidak. Akibatnya, harga tandan buah segar di tingkat petani anjlok dari Rp3.400 menjadi Rp2.400 per kilogram.

“Di saat rupiah melemah, harusnya sebagian petani kita itu happy seperti tahun ’98. Tetapi karena bersamaan dengan kebijakan baru ini, mereka tidak bisa menikmati melemahnya rupiah itu,” kata Dahlan.

Sebaliknya, Dahlan menawarkan optimisme berbasis sektor riil: Indonesia harus menggenjot ekspor buah tropis ke Tiongkok. Ia mengisahkan pengalamannya di pasar induk Tiongkok yang dipenuhi lautan buah tropis, namun manggis asal Indonesia hanya ditemukan satu keranjang kecil. “Pasar manggis di Tiongkok luar biasa besar. Tapi kita tidak hadir,” ujarnya.

Dahlan juga menekankan bahwa bagi pelaku usaha, yang paling penting bukan seberapa kuat atau lemah rupiah, melainkan stabilitasnya. “Melemah menjadi 18.000 pun oke, yang penting stabil dan bisa diprediksi. Kalau tiap hari berubah, orang tidak bisa kalkulasi investasi dan ekonomi bisa mandek,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Prabowo Minta Pengusaha Muda Jadi Patriot Ekonomi, Jangan Bawa Kabur Kekayaan

11 Juni 2026 - 16:54 WIB

YLKI Tagih Perbaikan Program MBG 100 Hari Pertama BGN Harus Nihil Keracunan

9 Juni 2026 - 14:52 WIB

Kata Anggota Dewan soal PHK Capai 23 Ribu Pekerja

9 Juni 2026 - 06:03 WIB

Populer NASIONAL