INAnews.co.id, Jakarta– Nilai tukar rupiah sempat melemah ke level 18.000-an selama lima hari berturut-turut sejak awal Juni 2026, bahkan bertahan di kisaran tersebut hingga pertengahan bulan sebelum mulai sedikit menguat ke level 17.000-an. Pelemahan ini terjadi di tengah catatan surplus neraca perdagangan Indonesia, sebuah paradoks yang mencerminkan rapuhnya fundamental ekonomi.
Menurut Ahmad Heri Firdaus, peneliti Center of Industry, Trade, and Investment INDEF, surplus perdagangan tidak serta-merta mencerminkan kekuatan ekonomi Indonesia. Secara teori, depresiasi mata uang seharusnya mendongkrak ekspor karena produk domestik menjadi lebih murah di pasar global. Namun dalam praktiknya, Indonesia kerap mengalami anomali.
“Kita beberapa kali mengalami depresiasi, tapi ekspor ya segitu-gitu aja,” ujar Heri dalam tayangan kanal INDEF, Rabu (17/6/2026). Ia menegaskan bahwa kinerja ekspor dipengaruhi banyak faktor di luar nilai tukar, mulai dari biaya produksi, logistik, harga bahan baku, hingga faktor kelembagaan. Selama ekosistem daya saing belum diperkuat secara menyeluruh, fluktuasi rupiah tidak akan banyak membantu akselerasi ekspor.
Situasi diperparah dengan naiknya harga BBM nonsubsidi hingga 30 persen yang diumumkan bersamaan, menambah tekanan biaya bagi industri dan rumah tangga.






