INAnews.co.id, Jakarta– Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut terpaksa “merantau” ke China untuk menawarkan Panda Bond setelah minat investor domestik terhadap Surat Berharga Negara (SBN) melemah, rasio penawaran terhadap permintaan (bid-to-cover ratio) pada Juni hanya 1,77 kali, jauh menurun dari sebelumnya yang bisa mencapai empat kali.
Namun menurut Ferry Latuhihin, investor China justru meminta waktu satu tahun untuk mengevaluasi kondisi APBN dan ekonomi Indonesia sebelum berkomitmen, sinyal ketidakpercayaan yang membuat penerbitan Panda Bond ditunda hingga akhir bulan, bertolak belakang dengan klaim pemerintah bahwa permintaan justru tinggi.
“Mereka tidak percaya kepada pemerintah kita,” tegas Ferry Latuhihin dalam video di kanal YouTube pribadinya, Kamis (2/7/2026), menambahkan bahwa investor China menganggap “Indonesia economy is not in a good shape.”
Ferry menghitung, dengan peringkat kredit Indonesia yang dua notch di bawah China dan berpotensi diturunkan ke BBB-, investor China idealnya meminta kupon sekitar 3,75 persen, jauh di atas yield obligasi pemerintah China yang hanya 1,75 persen. Sementara itu, yield SBN domestik bertenor 10 tahun sudah mencapai 7,17 persen, salah satu yang tertinggi di dunia, mencerminkan persepsi risiko yang tinggi terhadap Indonesia.






