INANews.co.id, Jakarta– Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur Indonesia ambruk dari 50 ke 46,9, penurunan tajam 3,1 poin yang menandai kontraksi serius di sektor manufaktur padat karya. Ekonom Ferry Latuhihin memperingatkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar berpotensi memuncak pada kuartal III dan IV tahun ini.
Menurut Ferry, level di atas 50 menandakan ekspansi—pabrik kebanjiran pesanan sehingga menambah tenaga kerja dan belanja modal. Sebaliknya, jatuhnya PMI jauh di bawah 50 mengindikasikan arus pesanan yang mengering dan tekanan untuk memangkas karyawan.
“Ini anjlok yang sangat dalam,” kata Ferry Latuhihin dalam video di kanal YouTube pribadinya, yang diunggah Kamis (2/7/2026), menegaskan bahwa penurunan tersebut mengindikasikan sektor manufaktur “mengalami kontraksi yang sangat-sangat memprihatinkan.”
Ia menyebut sejumlah kasus PHK yang sudah mencuat: permintaan bailout dari Danantara oleh sebuah perusahaan lewat Presiden KSPI Said Iqbal untuk 2.000 pekerja, 4.000 pekerja industri otomotif terkait Jepang yang hengkang ke Vietnam, serta ancaman PHK 55.000 pegawai di dua pabrik besar di Bekasi akibat kenaikan harga gas dari 6 dolar menjadi 23 dolar per MMBTU. “Ini tanda-tanda akan terjadi PHK yang sangat dahsyat,” ujarnya.
Ironisnya, di tengah data suram ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melonjak 1,70% ke level sekitar 5.792—kondisi yang menurut Ferry merupakan anomali dan mengharuskan investor bersikap hati-hati, tidak “serok” saham secara agresif.






