INAnews.co.id, Jakarta- Konsep ketahanan energi pemerintah dinilai bertolak belakang dengan kondisi sistem kelistrikan nasional yang masih bergantung pada pembangkit batu bara dan jaringan tersentralisasi.
Direktur Program Trend Asia Ahmad Ashov Birry mengatakan sistem seperti itu justru semakin rentan terhadap cuaca ekstrem, krisis iklim, hingga gangguan pasokan energi fosil.
“Ketahanan tidak bisa dicapai dengan sentralisasi. Yang lebih tahan justru sistem energi yang terdesentralisasi,” katanya dalam podcast YLBHI yang tayang Senin (6/7/2026).
Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan energi surya, angin, air, hingga mikrogrid berbasis komunitas.
Namun berbagai insentif terhadap energi terbarukan justru dicabut, sementara dukungan terhadap batu bara tetap besar melalui subsidi dan berbagai kemudahan.
Birry menilai pemerintah seharusnya menjadikan transisi energi sebagai strategi memperkuat ketahanan nasional, bukan mempertahankan dominasi energi fosil.






