INAnews.co.id, Jakarta- Deputi Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, R. Eko Adi Irianto, mengungkapkan pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah nasional masih tumbuh dua digit hingga Juni 2026, dengan pertumbuhan pembiayaan mencapai 11,4 persen. Namun, ia menyoroti lambatnya pemulihan pembiayaan bagi sektor UMKM syariah.
Hal itu disampaikan Eko dalam diskusi panel Seminar Nasional Catatan Tengah Tahun Ekonomi Syariah 2026 yang digelar CSED INDEF di Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
“Situasi perbankan syariah kita so far sampai hari ini sampai Juni itu masih sangat baik,” kata Eko. Namun ia menggarisbawahi, “UMKM ini pertumbuhannya masih rendah. Ini yang menjadi perhatian kita bersama.”
Menurut Eko, meski berbagai insentif kebijakan moneter dan fiskal telah digelontorkan sejak masa pandemi Covid-19, pemulihan pembiayaan UMKM belum sesuai ekspektasi. Ia menduga scarring effect pandemi masih membekas dan membuat profil risiko UMKM belum memenuhi selera bank (risk appetite).
“Kelihatannya memang perlu ada pendekatan yang lebih fundamental,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya sinergi lintas lembaga, tidak hanya dari otoritas moneter dan pengawas jasa keuangan.
Eko turut memaparkan sejumlah inovasi produk perbankan syariah yang tengah dikembangkan, di antaranya bisnis bank emas (bullion) yang tumbuh 78,6 persen, instrumen syariah restricted investment account atau mudharabah muqayyadah dengan piloting sekitar Rp1,35 triliun, serta cash waqf linked deposit (CWLD) yang telah diimplementasikan di sembilan bank umum syariah, tiga unit usaha syariah, dan sembilan BPRS.
Ia juga menyinggung tantangan literasi versus inklusi keuangan syariah yang masih timpang, serta mendorong pemanfaatan media sosial dan pendekatan berbasis kebutuhan generasi muda untuk mengonversi kesadaran (literasi) menjadi perilaku nyata menggunakan produk keuangan syariah (inklusi). Bank Indonesia, kata Eko, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi syariah nasional berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen dengan pembiayaan syariah tumbuh 8-12 persen pada 2026.






