INAnews.co.id, Jakarta- Nilai tukar rupiah menunjukkan kinerja positif pada penutupan perdagangan Senin (2/6/2025) sore. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok, rupiah berhasil menguat signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip CNN Indonesia, nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,45 persen ke level Rp 16.253 per dolar AS. Sementara itu, data dari Kontan.co.id mencatat rupiah di pasar spot ditutup pada Rp 16.313 per dolar AS, menguat 0,08% dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Penguatan ini juga sejalan dengan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang menguat ke Rp 16.297 per dolar AS. Beberapa sumber lain, seperti kumparanBISNIS dan Investor Daily, juga melaporkan penguatan rupiah ke Rp 16.253 per dolar AS.
Kenaikan nilai tukar rupiah ini terjadi di tengah kekhawatiran akan eskalasi perang dagang AS-China yang meningkat, sebagaimana dilaporkan oleh Investor Daily. Meskipun sentimen global kurang mendukung, rupiah mampu menunjukkan resiliensi.
Sebelumnya, pada pagi hari, rupiah sempat dibuka melemah tipis. Namun, seiring berjalannya sesi perdagangan, mata uang Garuda ini berhasil membalikkan keadaan. Penguatan rupiah di awal Juni ini terjadi di tengah data ekonomi domestik yang akan dirilis, seperti inflasi dan neraca perdagangan.
Analis sebelumnya memproyeksikan rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp 16.250 per dolar AS. Proyeksi ini didukung oleh sinyal dovish atau kebijakan moneter yang lebih lunak dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang diharapkan dapat mendorong investor global kembali ke aset berisiko di negara-negara berkembang.***






