INAnews.co.id, Jakarta– Muhammad Said Didu menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto mewarisi beban fiskal dan kerusakan sistem yang sangat berat dari pemerintahan sebelumnya. Warisan ini, menurutnya, menjadi akar dari banyak tekanan yang kini dirasakan rakyat, termasuk rencana kenaikan pajak.
“Saya paham bahwa ini adalah dampak dari Presiden Joko Widodo menambah utang sehingga fiskal yang Bapak hadapi sangat berat,” kata Said Didu lewat channel YouTube-nya, Senin.
Dia mengungkapkan, beban utang pokok dan bunga yang harus dibayar pemerintah saat ini mencapai Rp1.352 triliun, dan diperkirakan akan membengkak menjadi Rp1.600 triliun pada tahun depan. Nilai ini hampir menyamai total penerimaan pajak, yang memaksa pemerintah mencari cara untuk meningkatkan pendapatan, salah satunya melalui reformasi perpajakan yang berpotensi membebani rakyat.
Selain utang, Said Didu juga menyoroti warisan kerusakan lain, seperti pembagian 5 juta hektar hutan dan ribuan izin tambang kepada oligarki, serta proyek-proyek strategis nasional (PSN) yang terbengkalai.
Oleh karena itu, tuntutan kesepuluh yang ia sampaikan adalah agar Prabowo mandiri dan tidak berada di bawah bayang-bayang kebijakan rezim sebelumnya. “Bebannya sekarang Bapak yang menanggung… atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan Joko Widodo,” pungkasnya.






