INAnews.co.id, Jakarta– Pakar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, memperingatkan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) bentukan Donald Trump justru berpotensi menjadikan Indonesia sebagai alat kepentingan Israel dan Amerika Serikat, bukan sebaliknya.
“Rencana jadi kuda troya sudah ketahuan sebelum masuk. Kuda troya itu harus silent operations. Ini belum apa-apa sudah bocor rencananya—gimana ceritanya?” ujar Hikmahanto dalam wawancara di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Ahad (22/2/2026).
Ia menilai narasi bahwa Indonesia bisa “masuk dulu, lalu ubah dari dalam” terlalu naif mengingat struktur BOP menempatkan Donald J. Trump sebagai chairman secara pribadi—bukan sebagai Presiden Amerika Serikat—dengan otoritas di atas seluruh kepala negara anggota.
“Di dalam BOP itu ada yang lebih tinggi dari Presiden Amerika sendiri. Namanya chairman. Dan chairman itu adalah Donald J. Trump sebagai pribadi, bukan jabatan presiden,” tegasnya.
Hikmahanto menunjuk Pasal 3 huruf B Piagam BOP sebagai dasar klaimnya. Ia menilai Indonesia telah menandatangani semacam “cek kosong” yang isinya kemudian ditentukan oleh Trump sendiri melalui piagam tersebut.
Negara-negara seperti Italia, Inggris, Prancis, dan Vatikan, kata dia, memilih tidak bergabung karena menyadari BOP berpotensi melegitimasi Trump sebagai “penyelamat dunia” tunggal.






