Menu

Mode Gelap
Presiden Prabowo Dorong Kampus Jadi Mitra Strategis Pemda Selesaikan Masalah Daerah Milad 5 Partai Ummat Hukuman Mati Bukan Solusi Utama Berantas Korupsi Mencurigai Program MBG Jadi Ladang Korupsi Baru Mahasiswa Trisakti Kecewa Sikap Prabowo soal Koruptor Novel Baswedan: Korupsi adalah Pengkhianatan Negara

POLITIK

Milad 5 Partai Ummat

badge-check


					Foto: terkait Milad 5 Partai Ummat/tangkapan layar Perbesar

Foto: terkait Milad 5 Partai Ummat/tangkapan layar

INAnews.co.id, Yogyakarta– Musyawarah Nasional (Munas) sekaligus Milad ke-5 Partai Ummat di Yogyakarta, Ahad (3/5/2026), berlangsung penuh semangat dan tekad. Ratusan kader dari 38 provinsi hadir menyatukan langkah, diperkuat oleh orasi sejumlah tokoh nasional yang membedah kondisi bangsa sekaligus menegaskan arah perjuangan partai menuju Pemilu 2029.

Legalitas Sah, Konsolidasi Dimulai

Ketua Harian DPP Partai Ummat MS Ka’ban membuka suasana dengan kabar menggembirakan: setelah 300 hari perjuangan panjang, Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia telah mengesahkan Partai Ummat sebagai partai politik yang sah.

“Jangan ada keragu-raguan. Kita harus bersyukur kepada Allah. 300 hari lamanya kita meyakinkan dan mengikuti semua proses yang ada di negara ini untuk menunjukkan hak kita sebagai warga bangsa,” ujar Ka’ban.

Ia langsung menetapkan target konkret. Seluruh fungsionaris di setiap TPS, katanya, wajib merebut minimal 70 suara. Konsolidasi harus dimulai dari lingkup terkecil,  keluarga sendiri. “Bapaknya Partai Ummat, ibunya Partai Ummat, anak-anaknya Partai Ummat, kakek nenek pun Partai Ummat—baru kita raih suara sebesar-besarnya,” tegasnya.

Ka’ban juga mengingatkan tantangan fiskal bangsa yang tidak bisa diabaikan. Utang Indonesia secara resmi telah melampaui Rp9.300 triliun. Mengacu pada kajian ekonom Dr. Seritua Arif, setiap satu dolar pinjaman bertenor 30 tahun akan dikembalikan sebesar 3,8 dolar, artinya total kewajiban riil Indonesia bisa mendekati Rp36.000 triliun, sementara APBN sudah defisit Rp247 triliun hingga kuartal kedua tahun ini.

“Siapa yang bisa melunasi utang-utang itu? Insya Allah Partai Ummat dengan kecerdasannya akan mengatasi itu,” ujarnya.

Ka’ban menegaskan bahwa fondasi seluruh perjuangan adalah keimanan, bukan kalkulasi politik semata. Ia mengutip Surah Al-A’raf ayat 96: jika suatu kaum beriman dan bertakwa, Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi. “Melangkah dengan bismillah, insya Allah Allah akan selalu menyertai langkah-langkah kita,” pungkasnya.

Gatot: Indonesia Dijajah Sistem, Bukan Peluru

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn.) Gatot Nurmantyo hadir langsung dari Mandalika di hari yang sama dan langsung menyampaikan orasi yang menghentakkan. Ia menegaskan bahwa Indonesia kini tengah dijajah bukan oleh senjata, melainkan oleh sistem politik dan ekonomi yang korup dari dalam.

“Saya hadir di sini untuk menitipkan masa depan cucu saya kepada Partai Ummat, agar mereka tidak menjadi budak di negeri sendiri,” ujarnya.

Gatot memaparkan lanskap geopolitik global yang langsung berdampak pada Indonesia. Perang masa kini, tegasnya, bukan lagi soal rudal dan drone, melainkan perang sistem lawan sistem, mata uang lawan mata uang. Iran kini memegang kunci energi global dengan menjadikan Selat Hormuz sebagai senjata finansial, memaksa negara-negara pengimpor minyak memilih antara membayar dengan yuan atau menghadapi blokade.

“Posisi kita sangat sentral, diperebutkan antara Cina dan Amerika. Kalau kita memberikan hak istimewa kepada Amerika, mempersilakan pesawat militernya terbang bebas di ruang udara kita, itu pengkhianatan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Dalam konteks domestik, Gatot menyoroti stagnannya PDB per kapita Indonesia yang hanya berkutat di 5.300 dolar AS sejak 2014. Ia membandingkan dengan Korea Selatan yang pada 1960 jauh lebih miskin dari Indonesia namun kini melampaui kita. Rahasianya bukan sumber daya alam, melainkan komitmen pada politik dan institusi yang bersih.

“Untuk bisa naik kelas, 90 persen soal politik dan institusi, 10 persen soal sumber daya. Kita punya sumber daya besar, tapi politik dan institusinya tidak jelas, ya tidak bisa naik kelas,” paparnya.

Gatot mendorong hilirisasi nikel secara serius sebagai jalan keluar dari jebakan utang. Jika Indonesia mampu memproduksi baterai dan tidak sekadar mengekspor bahan baku mentah, dalam satu dekade Indonesia bisa menjadi pemasok baterai terbesar dunia.

Ia menutup orasinya dengan mendorong Partai Ummat memanfaatkan teknologi digital secara maksimal. “Satu kader di daerah, telekonferensi rutin, big data terhubung, tanpa biaya besar, hanya dengan ibu jari, pesan kebenaran bisa menyebar ke seluruh pelosok negeri setiap hari,” ujarnya.

Cholil Ridwan: Mukmin Sejati Wajib Berjuang dengan Harta dan Jiwa

KH. Ahmad Cholil Ridwan membedah perbedaan mendasar antara muslim dan mukmin yang menurutnya sering diabaikan, bahkan oleh kalangan aktivis Islam sekalipun. Muslim, tegasnya, bisa saja bermaksiat, korupsi, dan munafik. Adapun mukmin sejati didefinisikan secara tegas oleh Alquran dalam Surah Al-Hujurat ayat 15: mereka yang beriman tanpa keraguan, lalu berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa raga mereka.

“Yang paling berbahaya adalah muslim yang munafik, lahiriahnya Islam, tapi hatinya anti syariat, anti politik Islam, anti ekonomi Islam. Inilah yang selama ini menghambat tegaknya hukum Islam di negeri ini,” ujarnya.

Cholil mencontohkan teladan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menyumbangkan 100 persen hartanya untuk Perang Badar, Umar sebesar 50 persen, dan Utsman sepertiga, namun karena Utsman seorang konglomerat, nilai sepertiga hartanya melampaui totalitas harta keduanya. “Itulah makna berjihad dengan harta terlebih dahulu, baru dengan jiwa raga,” katanya.

Berdasarkan itu, Cholil mengusulkan agar Partai Ummat mendeklarasikan diri sebagai Hizbullah masa kini, partai Allah dalam pengertian Al-Qur’an. Allah menegaskan: “Ala inna hizballahi humul muflihun”, hanya partai Allah yang beruntung. Sebaliknya, “Ala inna hizbasy syaithani humul khasirun”, partai setan adalah partai yang merugi.

Cholil juga mendorong kader untuk berhijrah secara ekonomi, meninggalkan kebiasaan berbelanja di gerai-gerai milik non-Muslim dan beralih kepada produk milik umat Islam. “Ibu-ibu berjilbab pagi-pagi sudah memenuhi gerai-gerai waralaba asing. Itu uang umat mengalir ke tempat yang tidak memperkuat umat,” sindirnya.

Untuk memperkuat partai secara finansial, ia merekomendasikan model MTA Solo: setiap anggota menandatangani komitmen infak wajib bulanan. “MTA punya kantor empat lantai, pesantren, masjid, rumah sakit, dan swalayan—semua dari uang sendiri, karena seluruh anggotanya berkomitmen berinfak rutin,” jelasnya.

Farid Okbah: Kader Ummat Harus Bahagiakan Diri dan Rakyat

Ustaz Ahmad Farid Okbah tampil dengan gaya yang lebih segar dan langsung menyentuh kalangan muda. Ia memaparkan empat modal personal yang harus dimiliki setiap kader agar Partai Ummat mampu memenangkan pertarungan politik 2029.

Ia membuka dengan kisah Afghanistan sebagai bukti kemenangan umat Islam atas dua kekuatan super. “Afghanistan mengalahkan Uni Soviet, lalu mengalahkan Amerika. Dalam dua tahun setelah menang, seluruh utang Afghanistan terselesaikan, karena mereka menghindari riba. Allah turunkan berkah bagi mereka,” paparnya.

Empat modal yang ia paparkan adalah self awareness (kesadaran bahwa bangsa ini tengah dijajah dan harus dibebaskan), self respect (kesadaran sebagai duta partai yang harus mulia dan berbenteng di hati rakyat), self confidence (keberanian tampil dan menemui siapa pun tanpa rasa rendah diri), serta self standing (kemandirian total—bergantung hanya kepada Allah).

Farid menegaskan ada empat tipe manusia dalam konteks pengabdian: yang membahagiakan dirinya dan orang lain (tipe terbaik), yang bahagia sendiri tanpa peduli sesama, yang bahagia sendiri tapi mencelakakan orang banyak seperti para koruptor, dan yang merugikan dirinya sendiri sekaligus orang lain. “Kader Partai Ummat wajib menjadi tipe pertama,” tegasnya.

Farid juga menyoroti misi negara yang belum terpenuhi: mencerdaskan bangsa, mensejahterakan rakyat, melindungi tumpah darah, dan menjalankan politik bebas aktif. Ia mendorong Partai Ummat menambahkan misi kelima yang tidak ada di partai mana pun: membahagiakan rakyat dunia dan akhirat.

“Sebelum membahagiakan orang lain, kader harus bahagia dulu. Dari kebahagiaan itulah lahir kekuatan untuk melayani rakyat dengan tulus,” pungkasnya.

Din Syamsuddin: Koreksi Total atau Terhanyut Arus

Tokoh Islam nasional Prof Muhammad Sirajuddin Syamsuddin (Din Syamsuddin) tampil dengan orasi yang paling sistematis dan akademis. Ia menegaskan bahwa Partai Ummat harus menjadi kekuatan yang melakukan koreksi total terhadap kemungkaran struktural dalam kehidupan berbangsa, atau partai ini akan ikut terhanyut dalam arus sistem yang korup.

“Saya datang karena cinta. Dengan syarat: Partai Ummat harus menjadi partai yang lain dari yang lain. Partai alternatif sejati,” tegasnya.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menyebut partai-partai yang ada telah mengalami disfungsi peran secara serius. Mereka terjebak dalam budaya pragmatisme, materialisme, oportunisme, bahkan hedonisme politik. “Inilah kerugian besar bagi bangsa yang besar ini,” ujarnya.

Din menawarkan dua opsi strategis. Pertama, total correction, koreksi menyeluruh terhadap undang-undang yang bertentangan dengan konstitusi, hingga mendorong penegakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kedua, the art of the possible, bermanuver cerdas dalam sistem yang ada sembari terus membangun kekuatan, tanpa terhanyut dalam arusnya.

Ia secara khusus menyoroti pengabaian terhadap sila keempat Pancasila yang menurutnya justru sarat dengan konsep keislaman yang sangat dalam. Kata kerakyatan berasal dari bahasa Arab ar-ra’iyyah, istilah dunia peternakan yang menggambarkan hubungan antara pengembala dan gembalaannya, dengan tiga dimensi: cinta, tanggung jawab, dan kemaslahatan.

“Inilah pola relasi ideal antara pemimpin dan rakyat yang seharusnya ditegakkan. Ini tidak mungkin tercapai dalam sistem demokrasi liberal yang sekarang kita praktikkan,” paparnya. Ia menambahkan, dalam UUD 1945 orisinal tidak pernah ada satu pun kata “demokrasi.” Kata itu, menurutnya, disusupkan belakangan dan mengakibatkan Indonesia terjebak demokrasi liberal yang kebablasan.

Din menegaskan bahwa momentum perubahan tidak harus menunggu 2029. Ia menyebut sejumlah tanggal sakral yang bisa menjadi tenggat waktu desakan perubahan: 20 Mei (Hari Kebangkitan Nasional), 1 Juni (Hari Lahir Pancasila), atau 17 Agustus (Hari Kemerdekaan). “Kita tidak boleh lelah berkiprah. Pak Amin Rais yang senior saja masih tegar. Masak kita yang lebih muda sudah menyerah,” serunya.

Din juga menyayangkan bahwa umat Islam yang berjumlah sekitar 240 juta jiwa, 87 persen dari total penduduk Indonesia—masih tertinggal dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Kondisi ini, menurutnya, justru menjadi peluang besar bagi Partai Ummat untuk menyapa dan merangkul mayoritas yang kecewa.

“Semoga kita bertemu di ujung jalan perjuangan dengan cita-cita yang sama: izzul Islam wal muslimin, dan mewujudkan Indonesia sesuai cita-cita Pembukaan UUD 1945,” pungkasnya.

Amien Rais: Kita Masuk Politik karena Allah

Ketua Majelis Syura Partai Ummat Prof. Muhammad Amien Rais menutup seluruh rangkaian acara dengan pesan yang singkat namun menghunjam. Di hadapan ratusan kader yang siap bertolak ke daerah masing-masing, ia menegaskan satu hal yang menjadi ruh seluruh perjuangan: Partai Ummat masuk ke pusaran politik semata-mata karena Allah, bukan karena jabatan, uang, kemewahan, atau kebanggaan palsu.

“Kita masuk ke politik bukan seperti definisi sekuler, how to get what and how. Kita masuk karena lillahi rabbil alamin,” tegasnya.

Amien menyampaikan rasa harunya atas kehadiran kader dari berbagai penjuru Nusantara yang rela berkorban demi menghadiri Munas dan Milad kelima partai yang ia dirikan bersama para ulama dan aktivis Islam itu. Ia mendukung penuh seruan para narasumber sebelumnya agar Partai Ummat tampil sebagai kekuatan alternatif yang autentik.

Ia menopang seruannya dengan dua ayat Alquran yang saling bertautan. “In tansurullaha yansurukum wa yusabbit aqdamakum”, jika kalian menolong agama Allah, Allah akan menolong dan meneguhkan langkah kalian. Dan, “In yansurukumullahu fala ghaliba lakum, wa in yakhdzulkum faman dzal ladzi yansurukum min ba’dih”, jika Allah telah menolong kalian, tidak ada satu pun kekuatan di dunia yang bisa mengalahkan. Namun jika Allah membiarkan, tidak ada pihak mana pun yang sanggup menolong.

“Dengan dua ayat ini kita sangat kuat. Asalkan niatnya lurus,” ujarnya.

Tokoh reformasi 1998 itu menutup Munas dengan salam perpisahan yang hangat namun sarat makna. “Mulai hari ini kita makin mantap. Besarkan Partai Ummat di tempat kalian masing-masing. Selamat jalan, fi amanillah,” pungkasnya, mengakhiri Milad ke-5 Partai Ummat yang berlangsung penuh semangat dan harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Presiden Prabowo Dorong Kampus Jadi Mitra Strategis Pemda Selesaikan Masalah Daerah

5 Mei 2026 - 12:26 WIB

Mencurigai Program MBG Jadi Ladang Korupsi Baru

5 Mei 2026 - 09:45 WIB

Sertifikasi Aktivis HAM Ibarat “Pilah-Pilih”

4 Mei 2026 - 18:59 WIB

Populer POLITIK