INAnews.co.id, Jakarta– Potensi pariwisata domestik Indonesia belum tergarap optimal. Salah satu hambatan utamanya adalah harga tiket penerbangan dalam negeri yang justru lebih mahal dibandingkan tiket ke luar negeri—fenomena yang mendorong sebagian pemudik dan wisatawan beralih ke destinasi mancanegara.
Dalam diskusi publik Senin (9/3/2026), peneliti Pusat Industri Perdagangan dan Investasi INDEF, Nur Komaria, mengungkapkan bahwa tidak sedikit pemudik dari Medan ke Aceh memilih transit lebih dulu ke Malaysia karena harganya lebih murah. Demikian pula perjalanan ke Batam, banyak yang memilih transit via Singapura demi efisiensi biaya.
“Kalau dibandingkan dengan ke luar negeri, kita masih jauh lebih mahal,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, tingginya harga tiket domestik disebabkan oleh struktur biaya operasional maskapai yang dibebani berbagai komponen pajak, termasuk pajak bahan bakar avtur berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 1983. Sementara penerbangan internasional dibebaskan dari PPN, penerbangan domestik tidak mendapat perlakuan serupa.
Di sisi lain, infrastruktur di destinasi wisata potensial juga masih jauh tertinggal dari kompetitor regional. Ia mencontohkan Raja Ampat di Papua Barat yang dibandingkan dengan Halong Bay di Vietnam: meski keindahan alamnya setara, infrastruktur pendukung seperti akomodasi dan aksesibilitas transportasi lokal di Raja Ampat masih perlu peningkatan signifikan.
INDEF mendorong pemerintah untuk menetapkan kebijakan harga tiket yang berlaku tidak hanya pada momen musiman seperti Lebaran, melainkan sepanjang tahun termasuk pada festival-festival lainnya. “Jika kita ingin meningkatkan pariwisata, infrastruktur dan kenyamanan saat berwisata juga perlu menjadi perhatian,” tegasnya.






