INAnews.co.id, Jakarta– Perempuan buruh nelayan di kawasan pesisir Semarang, Jawa Tengah, menanggung beban ganda yang berat: bekerja sebagai buruh jemur ikan dan pengupas udang sejak subuh hingga malam, sekaligus mengurus seluruh kebutuhan rumah tangga, tanpa jaminan kesehatan maupun perlindungan hukum apa pun.
Suniyah NS, perwakilan perempuan buruh nelayan dari Semarang, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut terpaksa dijalani karena penghasilan suami dari melaut terus menyusut. Zona tangkap yang kini hanya sekitar dua kilometer dari pantai, kelangkaan BBM, dan tekanan dari tengkulak dan rentenir membuat keluarga nelayan kecil makin tercekik.
“Perempuan itu kerjanya melebihi laki-laki, 1 kali 24 jam, dari pagi sampai pagi lagi mengurusi suami, mengurusi rumah tangga — tapi tidak ada jaminannya sama sekali,” tuturnya, Senin (4/5/2026).
Suniyah juga menyoroti bahwa perempuan nelayan kerap disingkirkan dari forum-forum pengambilan keputusan di wilayahnya. Ia berharap perempuan di kawasan pesisir mendapatkan prioritas dalam jaminan kesehatan, perlindungan sosial, dan ruang partisipasi dalam musyawarah desa.
Selama ini, kata dia, meskipun aktif sebagai kader kesehatan dan pendamping keluarga, perempuan nelayan tidak pernah mendapat pengakuan, bantuan, maupun apresiasi dari pemerintah setempat.






