INAnews.co.id, Jakarta– Salah satu kekhawatiran yang mengemuka dalam diskusi adalah kemungkinan KDMP menggusur sentra-sentra ekonomi yang sudah lama tumbuh secara organik di desa, seperti unit usaha berbasis pesantren, koperasi gereja, maupun lembaga ekonomi adat. Namun pengalaman dari pilot project justru menunjukkan gambaran sebaliknya.
Ari Permana dari Kementerian Koperasi mengungkapkan bahwa beberapa pilot project KDMP yang paling berhasil justru adalah yang menempatkan pondok pesantren sebagai mitra utama, semacam kakak asuh bagi koperasi desa yang baru berdiri.
“Tantangan sosialnya cukup tinggi. Tapi dengan keterlibatan tokoh kultural—kiai, pendeta, tokoh adat—masyarakat yang tadinya skeptis menjadi jauh lebih terbuka. Pilot project yang sukses justru yang basisnya pondok pesantren,” kata Ari Permana di kanal YouTube-nya Mardani Ali Sera, Jumat.
Pola kolaborasi ini dinilai saling menguntungkan. KDMP tidak masuk ke wilayah komoditas yang sudah dikuasai koperasi existing, misalnya tebu pada koperasi petani tebu rakyat, melainkan mengisi ceruk komoditas lain seperti cabai, tomat, dan produk hortikultura yang belum memiliki agregator.
Mardani Ali Sera menambahkan bahwa keunikan setiap desa justru harus dilindungi dan dijadikan modal, bukan disamaratakan. Ia mengingatkan perlunya pendekatan one village one product yang mengacu pada keunggulan lokal masing-masing desa, sebagaimana pernah diterapkan dalam program-program pembangunan sebelumnya.
“Ketika ada koperasi Desa Merah Putih, koperasi atau unit ekonomi milik pesantren, gereja, vihara, atau desa adat tidak boleh mati. Justru kolaborasinya harus saling menguatkan karena dua-duanya punya orientasi yang sama: membangun ekonomi grassroot,” kata Mardani.
Para narasumber sepakat bahwa KDMP punya peluang besar untuk menjadi tulang punggung distribusi ekonomi desa, bukan hanya sebagai toko kebutuhan pokok, melainkan sebagai agregator hasil produksi lokal, offtaker pertanian, penyalur subsidi, hingga pusat layanan kesehatan dan sosial masyarakat desa.






